
Medan
merupakan kota yang majemuk. Keberagaman etnik dan budaya masyarakatnya
itu tercermin dari sajian makanan yang beraneka ragam. Kelebihan itu
memberi dampak positif karena citarasa makanan khasnya dapat dinikmati
lidah setiap orang, bahkan pendatang. Anugerah tersebut dimanfaatkan
betul oleh masyarakatnya. Hampir di setiap sudut kota kita jumpai tempat
jajanan dengan konsep-konsep yang istimewa.
Ya, Medan adalah surga
makanan.
Pukul empat sore, penulis bersama rombongan baru saja tiba dari Brastagi
yang dingin. Setelah rehat sejenak, kami bersiap untuk menyusuri
sudut-sudut kota Medan di waktu malam. Berkeliling kota dengan becak
khas kota itu sebuah pilihan yang bijak. Sebab, pengemudinya bisa
menjadi pemandu yang tepercaya.
Di Medan, kita tak perlu khawatir mencari tempat untuk sekadar melepas
penat. Ingin jajanan malam, pergilah ke semua sudut kota, mulai dari
yang pinggiran sampai ke jantung kota. Sebagai saran, mulailah dari
titik nol kota Medan, yaitu Lapangan Merdeka Medan. Di sana ada Merdeka
Walk, yang juga dilengkapi dengan permainan anak-anak.

Merdeka
Walk merupakan salah satu objek wisata kuliner yang menawarkan konsep
”food, fun and leisure”. Kalau tak sedang musim hujan, kita bisa
menikmati santapan dalam udara terbuka, di bawah langit cerah penuh
bintang. Kalau bulan sedang purnama, wah sangat eksotis.
Merdeka Walk yang dibangun oleh PT Orange Indonesia dengan dukungan Wali
Kota Medan itu berada di sisi barat Lapangan Merdeka dan menggunakan
lahan seluas 6.600 meter persegi. Penataannya yang modern plus suasana
asri dan sejuk karena masih terjaganya kelestarian pepohonan yang tumbuh
di sekitarnya, akan membuat kita betah berlama-lama sembari menikmati
sajian aneka hidangan mulai dari masakan tradisional, China, atau Barat.
Malam itu, sekitar pukul 20.00, kami sampai di tempat makan yang dikenal
sebagai lambang gaulnya kota Medan. Merdeka Walk memang berbeda dari
kebanyakan mal. Kalau umumnya mal modern berdiri garang menjulang ke
angkasa, bangunan Merdeka Walk membentang melebar di atas tanah terbuka,
tanpa penyejuk udara, dan menyediakan tempat berjalan kaki yang luas.
Akses menuju kawasan itu pun cukup mudah. Kendaraan umum hilir-mudik di
depan Merdeka Walk. Yang membawa kendaraan pribadi bisa leluasa memarkir
kendaraan. Sebab, tempat parkir kawasan itu mengelilingi Lapangan
Merdeka.

Karena
berada di tempat terbuka dan cukup luas, Merdeka Walk terasa lega dan
lapang. Apalagi berada di jantung kota yang punya sejumlah bangunan tua.
Sembari menunggu pesanan makanan datang, kita bisa melemparkan
pandangan ke arah bangunan tua, saksi bisu perkembangan kota itu.
Di depan Merdeka Walk, di seberang jalan, beberapa gedung bersejarah
berdiri kukuh dengan masih menyisakan arsitektur khas Belanda setelah
renovasi di sana-sini, seperti Gedung PT London Sumatra, Gedung Wali
Kota Medan, Hotel Darma Deli, dan Gedung Kantor Pos.
Merdeka Walk juga dekat dengan Menara Air Tirtonadi (yang merupakan ikon
kota Medan) dan Titi Gantung, sebuah jembatan di atas rel kereta api,
serta kawasan Kesawan, yang juga memililiki bangunan dan rumah-rumah
toko tua seperti yang bisa ditemukan di Pecinan dan Kota Lama Semarang.
Kawasan Kesawan sebenarnya lebih dulu diorbitkan Pemerintah Kota Medan
sebagai pusat jajanan malam Kota Medan. Satu jalan sengaja ditutup dan
digunakan sebagai tempat orang menjajakan makanan atau yang biasa
disebut sebagai Kesawan Square.
Agak jauh dari Lapangan Merdeka, masih ada beberapa bangunan bersejarah,
seperti Masjid Raya Medan dan Istana Maimun. Istana ini masih
mempertahankan tradisi membagi-bagikan bubur khasnya itu kepada jamaah
setiap Ramadan.
Berkeliling kota Medan tidak lengkap kalau kita tidak menyusuri jalan
Ahmad Yani yang merupakan kawasan Pecinan di Medan. Berada pada inti
kota yang dulu dikenal dengan nama ”Kesawan”, jalan tersebut merupakan
daerah pertokoan dan pusat bisnis pada siang hari, dan pada malam hari
menjadi tempat berjualan berbagai jenis makanan khas kota. Jika
Yogyakarta memiliki Malioboro dan Bandung punya Braga sebagai kawasan
yang menjadi ciri khasnya, maka warga Medan boleh berbangga diri dengan
Kesawan sebagai ikon baru yang menjadi ciri khas kota.
Selain kawasan Kesawan Square yang mulai kalah bersaing dengan Merdeka
Walk, di sana terdapat bangunan bangunan tua yang bersejarah. Ada sebuah
bangunan rumah etnis kuno dengan pintu gerbang yang besar dan berpintu
kayu tua dan dua lampu lampion tergantung menyala indah di depannya.
Nuansa Pecinan seperti terwakili oleh rumah tersebut.

Rumah
siapa itu? Rumah itu peninggalan Tjong A Fie. Bangunannya indah.Bentuk
pintu gerbangnya terlihat etnikal, dengan ukir-ukiran khas China. Pun
lampionnya, tergantung anggun, seperti di film-film silat Mandarin zaman
dulu.
Yang pasti, Kesawan betul-betul masih membawa napas Kota Medan zaman
dulu, ditandai dengan bangunan-bangunan lama berarsitektur perpaduan
gaya Tionghoa dan kolonial Belanda. Beberapa bangunan yang menjadi ciri
khas Kota Medan terdapat di area ini, termasuk rumah Tjong A Fie,
jutawan tembakau di tahun 1910.
Siapa Tjong A Fie? Dia adalah Mayor China di Medan, seorang miliarder
pertama di Sumatera. Hingga kini namanya terus dikenang di Kota Medan,
meski dia sudah meninggal pada tahun 1921. Pada Tahun 1870 Tjong A Fie
dan kakaknya, Tjong Yong Hian meninggalkan Desa Moy Hian, Kanton di
daratan China untuk merantau ke Tanah Deli sebagai kuli kontrak di
perkebunan Tembakau.
Kakak beradik ini sangat jeli melihat peluang bisnis. Pada suatu
kesempatan mereka tinggal menetap di ibu kota Labuhan Deli dan membuka
kedai dengan nama Ban Yun Tjong. Tjong A Fie tahu betul kebutuhan
kuli-kuli China dan perantau lainnya yang baru tiba di Tanah Deli
sehingga dalam waktu singkat saja dia sudah jadi kaya raya. Keberhasilan
usahanya semakin bertambah.
Sampai saat ini bangunan tua bersejarah yang berada di areal Kesawan
adalah merupakan tempat tinggal keluarga Tjong A Fie dan keturunannya
yang kali pertama dibangun di kawasan tersebut. Gedung tua ini
menggambarkan budaya sekaligus keuletan kelompok etnis Tionghoa yang
sejak ratusan tahun menetap di Tanah Deli. Gedung tua yang berada di
Kesawan (Tapekongstraat) ini milik Tjong A Fie, sahabat dekat Sultan
Deli.
Jangan Lupa Bika Ambon dan Durian
Orang bilang, kita belum bisa dikatakan pergi ke Medan kalau belum makan
bika Ambon. Itu memang oleh-oleh khas kota tersebut selain sirup
markisa dan terong Belanda. Pusat jajanan yang menjajakan semua
cangkingan itu ada di Jalan Mojopahit. Di sana berjajar toko penjual
bika Ambon.
Jika naik bentor (becak motor), kita tinggal bilang mau ke Jalan
Mojopahit, maka pengemudinya langsung tahu yang kita maksud. Para sopir
bentor itu sudah punya langganan masing-masing karena mereka akan
mendapatkan fee dari toko yang mereka rujuk.
Konon, bika Ambon paling enak dijual di toko jajanan Zulaeha. Penulis
meluncur ke sana dengan bentor. Di situ, ada beberapa macam bika Ambon.
Ada yang standar, rasa cokelat, pandan, dan keju. Yang tidak sempat
untuk mampir ke sentra bika Ambon, dapat membeli oleh-oleh itu di
toko-toko dekat hotel maupun beberapa pertokoan di bandara.
Setelah beroleh bika Ambon, rasanya sudah tiba saatnya untuk berburu
buah durian. Yup, buah berduri asal Medan ini memang terkenal di
seantero negeri. Apalagi tatkala musim durian telah tiba, harganya bisa
jauh lebih murah lagi dibanding saat belum musimnya. Musim buah durian
biasanya pada bulan November sampai Februari.

Nah,
untuk menikmati rasa buah yang manis dengan ada rasa pahitnya ini kita
tak perlu repot karena banyak penjualnya di sejumlah ruas jalan Kota
Medan. Namun tempat yang paling pavorit antara lain Jalan Iskandar Muda
(Pasar Pringgan), Jalan Bogor di persimpangan Jalan Semarang, Jalan
Pelajar, dan masih banyak lagi sentra buah durian. Di Jalan Pelajar ini
sering kali puluhan mobil pikap menurunkan buah durian dari berbagai
daerah di Sumatera Utara. Para pedagang durian umumnya mengambil durian
dari mobil itu sebelum dijual kembali.
Untuk harga satu buah durian, kita bisa dapatkan hanya dengan Rp 4-10
ribu saja. Rasanya? Jangan ditanya. Jangan ragu-ragu menjadikan durian
sebagai oleh-oleh keluarga di rumah. Mereka menyediakan boks-boks dalam
berbagai ukuran. Ada yang kecil, sedang, dan besar.
Soal harga tentu bervariasi sesuai dengan bentuk boks. Untuk boks kecil
mereka mematok harga Rp 100 ribu, boks sedang Rp 150 ribu, dan boks
besar Rp 200 ribu. Itu semua masih bisa kita tawar. Semakin pintar
menawar, pasti semakin murah harganya.
Mereka pun memberikan jasa gratis mengepak boks tersebut menjadi rapi.
Rapat dan sangat kedap udara agar bau durian tidak keluar membaui
lingkungan sekitar. Karena memang buah Durian dilarang dalam perjalanan
dengan pesawat udara, maka kita harus pandai untuk mengepak agar baunya
tidak ke mana-mana. Boks digulung rapat-rapat dengan lakban sebelum
dimasukkan ke dalam plastik yang telah di isi irisan daun pandan.
Setelah itu boks dimasukkan ke dalam kardus yang juga ditaburi bubuk
kopi. Dengan demikian, aroma buah durian sudah tidak dapat lagi dibaui
orang yang ada di sekitarnya.
Sumber: SuaraMerdeka
foto :
tripadvisor.com,
tirong,
bakeryindonesiamag,
pemkomedan,
kun.co.ro