Tampilkan postingan dengan label Shoping n holiday. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shoping n holiday. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Desember 2013

Ke Monako, Mimpi Di Negeri Dongeng





"Berlibur di Monako?Wow!" Komentar penuh rasa kagum ini diucapkan spontan petugas imigrasi Bandara Schipol, Belanda, ketika memeriksa paspor saya. Monako, kawasan sempit seluas 70 hektare di pinggir Laut Tengah itu memang penuh pesona.
Akibat sempitnya wilayah, tak lebih luas dari kawasan Senayan, Jakarta, untuk datang ke sana, wisatawan harus terbang lewat Nice, Perancis. Artinya, mendarat di negara tetangga. Monako memang bukan Perancis, tetapi sebuah kerajaan berdaulat dengan bendera, pemerintahan, dan juga punya paspor sendiri.

Monegasque, sebutan untuk warga negara Monako, jumlahnya hanya sekitar 5.000 orang. Namun, yang ikut menetap di negara ini diperkirakan lebih dari 30.000 orang.

"Artinya, terdapat 25.000 penduduk musiman, orang-orang kaya dari seluruh penjuru dunia, yang tinggal di sini untuk menghindari tagihan pajak di negaranya," kata Michelle, pemandu wisata yang saya sangka bintang film, sewaktu menjemput ke Bandara Nice.

Negara terkecil di dunia setelah Vatikan ini terletak di tebing berbatu-batu dan praktis tidak ada yang bisa ditawarkan, selain pemandangan indah serta iklim hangat Mediteranian. Orang asing selalu dipikat agar terus-menerus datang melalui jaminan keamanan dan izin boleh berbisnis apa saja.

Segala kemudahan tersebut menjadikan biaya hidup di Monako sangat mahal, tetapi punya tambahan pemikat. Sepanjang tahun tersusun rapi beragam agenda kegiatan; sejak balap mobil Fomula 1 sampai pertandingan tenis master dunia, dari penghargaan pengusaha terbaik sedunia, hingga lomba kapal pesiar.

Pesona Putri Grace

Monako, yang terbagi dalam dua wilayah, Monte Carlo dan The Rock, tampil bagaikan sebuah negeri dongeng, sesudah Pangeran Rainier III tahun 1956 menikah dengan Grace Kelly, bintang cantik asal Hollywood. Semua unsur dongeng terpenuhi, kerajaan indah di tepi pantai, permaisuri cantik, raja kaya raya, dan pesta mewah sepanjang waktu.

Pernikahan mereka membuahkan tiga anak: Caroline, Albert, dan Stephanie. Tahun 1982 Putri Grace meninggal, mobilnya jatuh ke jurang. Nyatanya, pesona Monako sudah terbentuk dan wisatawan terus membanjir berkunjung ke Taman Mawar, yang khusus dibangun untuk mengenang Putri Grace, atau berziarah ke makamnya di dalam katedral.

Pangeran Rainier yang tahun lalu tutup usia dan posisinya sekarang telah digantikan oleh Pangeran Albert Grimaldi pernah mengaku, "Saya memimpin Monako seperti mengelola perusahaan, semua kegiatan dan segala sektor harus bisa menghasilkan..."

Hasilnya mengejutkan. Semisal kawasan yang kini bemama Fontvieille; penuh bangunan, stadion, dan pelabuhan kapal pesiar. Tahun 1972 Fonivieille hanya laut dangkal yang kemudian dikeringkan, dan Rainier bisa memperluas seperdelapan daratan Monako menjadi tambahan wilayahnya. Keberhasilan tersebut kini dilanjutkan lewat proyek reklamasi Fontvieille II.

Pendapatan utama Monako berasal dari sektor pariwisata. Ketika wisatawan datang berduyun-duyun, mereka tanpa sadar ikut memberi sumbangan banyak sekali, sejak membayar sewa hotel berikut beragam pengeluaran tambahan, yang semua harganya selalu selangit.

Jangan heran, setiap pengelola tur rohani Roma-Lourdes atau wisatawan dengan tawaran paket perjalanan darat rute Paris-Roma, pasti hanya singgah makan siang di Monako. Kalau pakai bermalam, harga paketnya menjadi sangat mahal, dan tidak semua wisatawan akan mampu membayar.

Perlu Syarat Khusus

Tidak pernah disebutkan tetapi adalah kenyataan, sebagian besar wisatawan datang ke Monako untuk berjudi, yang secara resmi memang diizinkan. Berbeda dengan kasino di tempat lain, di sini pengunjung tidak boleh datang sembarangan.

Semua penjudi harus serapi James Bond dengan cewek-ceweknya, seperti tampak pada film Casino Royale. Semua rapi, wangi, dan yang pasti, membawa banyak uang, sebab ada batas minimum untuk bisa ikut mendekat ke meja judi.

Warna bendera Monako persis Indonesia, merah-putih. Karena itu, kalau melihat puluhan bendera dikibarkan, umbul-umbul dipasang di tepi jalan, lengkap dengan spanduk raksasa yang semuanya pakai warna merah-putih, jangan merasa bahwa kehadiran kita di Monako memperoleh perlakuan VIIP.

Lalu, mengapa harus beberapa malam menginap di Monako kalau memang tidak senang judi?

Jangan khawatir, tersedia akuarium raksasa dengan koleksi segala macam ikan sejak dari kutub sampai perairan tropika. Sepanjang waktu ada beragam konser musik, aneka macam olahraga, dan rumah makan dengan sajian menu nikmat dari seluruh dunia.

Michelle menambahkan, "Bahkan, sekadar pengalaman menunggu senja turun di pantai Monte Carlo saja, tidak bisa tertandingi. Harus dilakukan berulang-ulang karena setiap hari suasana selalu berbeda.."

Tanpa membantah, saya langsung mendukung pendapatnya.

Sumber: Senior

Senin, 29 Juli 2013

Bubur Bali Berteman Urap Sayuran






Bali memiliki sejumlah menu masakan yang dijamin menggoyang lidah, tetapi bubur bali tidak termasuk dalam jenis makanan yang populer untuk orang dari Pulau Dewata itu. Salah satu tempat untuk menyantap bubur bali adalah di Warung Tresni di Jalan Drupadi, Denpasar. Warung milik Made Suwarka ini buka dari pukul 08.00 sampai sore. Namun, bila ingin mencicipi buburnya, jangan datang setelah pukul 10.00 pada hari hujan atau datanglah sebelum pukul 12.00 pada hari terang supaya masih kebagian.

Cara memasak bubur yang dijual dengan harga Rp 7.000 sepiring itu sama seperti membuat bubur di mana-mana: beras dimasak dengan banyak air ditambah daun salam untuk membuat wangi bubur.

Keistimewaan bubur bali adalah pada menu penyerta bubur itu, yaitu urap sayuran dan gecok yang terdiri dari suwiran daging ayam dengan kuah betutu yang rasanya pedas menggigit.

Suwarka menyediakan buburnya dengan urap sayuran yang ditaburi kacang goreng, usus goreng, serta popcorn. Tidak lupa tentu saja sambal matah khas Bali.

Tentang popcorn, jagung letus buatan Suwarka itu cara pembuatannya sedikit berbeda dibandingkan dengan popcorn yang biasanya dibuat dengan dibubuhi garam atau margarin. Suwarka mengolahnya dengan memberi bawang putih lalu digoreng dengan minyak.

”Kalau ingin hasilnya lebih baik, jagung dijemur terlebih dahulu,” tutur Suwarka.

Gara-gara inovasi Suwarka dengan jagung letus itu, bubur Suwarka menjadi salah satu bubur bali yang populer di Denpasar.

Urap bali

Bubur dari Bali berbeda dengan bubur daerah lain di Indonesia karena teman menyantapnya adalah urap sayuran dan gecok. Sayuran urap terdiri dari daun singkong dan rajangan kasar kacang panjang. Sayuran rebus itu lalu dicampur dengan bumbu-bumbu, kelapa parut dari kelapa yang telah dibakar, bawang goreng, dan cabai yang dirajang kasar.

Teman makan bubur yang lain adalah gecok. Menu ini terdiri dari adukan daging ayam suwir, kaldu ceker ayam, santan matang, serta bumbu kalas. Bumbu kalas terdiri dari, antara lain, kencur, ketumbar, bawang merah, dan bawang putih lalu dicampur dengan parutan kasar kelapa yang dibakar terlebih dulu.

Untuk lebih menarik, cara penyajian bubur pun dibuat sedekat mungkin dengan cara yang aslinya memakai daun pisang. Hanya saja, Suwarka meletakkan daun pisang di atas piring.

”Daun pisang tidak bisa ditinggalkan karena itu menjadi pemanis sajian sekaligus sedap di buburnya sendiri. Kalau saya tak lagi menggunakan, wah langganan bisa protes,” ujar Suwarka.

Bermacam racikan

Seperti lazimnya tawaran makanan di mana-mana, bubur bali pun memiliki racikan berbeda-beda sesuai dengan resep setiap pedagang yang dipengaruhi daerah asalnya.

Menurut Suwarka, buburnya memakai racikan Denpasar. Adapun daerah lain bisa saja memakai sayuran yang berbeda atau kuah betutu berbeda pula.

Sebenarnya di pasar-pasar tradisional juga bisa dijumpai bubur bali, hanya saja soal rasa tentu tidak bisa sama. Begitu juga rasa kuah dan jenis sayuran yang disajikan pun berbeda-beda. Dari beberapa orang yang ditemui, mereka menyatakan paling enak adalah bubur Tresni karena ada popcorn-nya.

Menikmati bubur Warung Tresni ini nikmatnya berpasangan dengan kerupuk dan teh manis panas. Teh manis panas di warung ini pun pasti dihiasi dengan irisan jeruk nipis.

Ia sendiri telah berkecimpung lebih dari 10 tahun berawal dari bisnis coba-coba ala kaki lima di pinggiran lapangan Puputan Renon. Belum lama berjualan di lapangan, penikmat bubur buatannya pun semakin bertambah setiap hari. Berbekal porsi sekitar 100 piring bubur seharga Rp 5.000 pun ludes setiap hari.

Karena terkena gusuran petugas ketertiban, Suwarka pun menyewa tempat di Jalan Drupadi. ”Saya pun mulai dari nol lagi. Saya berkeyakinan pembeli setia saya pasti akan mencari. Jadi, yakin saja, kalau enak, pasti dicari terus,” ujar dia mantap.

Selain menawarkan bubur bali, Warung Tresni juga menyediakan nasi campur dan jajan khas Bali. Enak seken ne (enak sekali)!

Ketupat untuk Mengganti Bubur


Warung Tresni ini pernah disinggahi beberapa selebriti, antara lain Iwan Fals, Ahmad Albar, dan grup Jamrud. Warung ini juga menjadi tempat nongkrong para perupa dan pekerja seni Bali. Aktris mancanegara juga ada yang pernah mampir di sana, yaitu Steven Seagal.

Penampilan Warung Tresni milik Made Suwarka di Jalan Drupadi, Denpasar, tidak mewah, bahkan cenderung sederhana. Meski demikian, sejumlah pelanggan mengaku justru kesederhanaan itulah yang membuat mereka betah dan kembali datang ke warung itu.

Bangunan dan mebel kebanyakan memanfaatkan unsur kayu. Meski berada di jalan alternatif dekat jalan utama, warung yang berada di pojokan ini tidak bising dan berdebu. Bahkan pepohonan sekitar ruang makan yang mendekati pendopo itu mendukung keasrian tempat tersebut. Halaman parkirnya pun luas.

Apabila Anda mampir di warung milik Suwarka dan tidak ingin menyantap buburnya, bubur tersebut dapat diganti dengan tipat alias ketupat. Tentu saja menu untuk teman menyantap tipat itu bisa sama seperti menu teman makan bubur, yaitu urap sayuran dan suwiran daging ayam berkuah betutu.

Sayangnya, jika bubur atau tipat sudah tercampur dengan kuah serta sayuran, harus segera dimakan. Bisa jadi basi jika terbungkus daun atau plastik lama-lama.

Apabila bubur atau tipat buatan Suwarka ingin disantap di rumah, pembeli bisa meminta agar kuah betutu dan sayuran dibungkus terpisah. Itu pun tidak bisa menjamin masakan akan bertahan lebih dari dua jam. Namun, mengapa harus lama-lama menunggu untuk menyantap bubur bali ala Warung Tresni?

Penulis : Ayu Sulistyowati
Sumber : KompasCommunity

Kamis, 04 Juli 2013

Nasi Tiga Huruf



nasi bukNamanya cukup singkat, Nasi Buk. Ya cuma 3 huruf Buk, tapi rasanya bisa bikin lidah serasa di gebug kenikmatan dan akhirnya membuat ketagihan. Setiap pulang kampung hampir setiap hari aku makan nasi Buk. Penjual nasi Buk di dominasi oleh ibu – ibu dari Madura dan mereka pun buka pada saat Lebaran Idul Fitri dan akan libur beberapa hari pada saat lebaran Haji.

Nasi Buk ini banyak di jumpai di Malang, sebut saja Nasi Buk Matirah yang ada di depan stasiun kota Malang, juga nasi Buk yang ada di gang Semarang dan masih banyak lagi.

Pada saat liburan tempo hari aku mencoba nasi Buk yang ada di seberang Depo Pertamina di seputaran jalan Halmahera, Malang.

nasi bukBertempat di halaman rumah orang, si penjual sepertinya tidak ada waktu sama sekali untuk beristirahat barang sejenak. Bagaimana tidak pembelinya silih berganti datang dan pergi.

Ada yang datang lengkap dengan bayi yang masih digendong dan juga kakek – nenek pun juga hadir disana. Kendaraan yang parkir pun beragam, mulai dari sepeda pancal sampai dengan kendaraan mewah seperti Alphard, BMW dan Mercy pun parkir didepannya.

Karakter pembeli pun beragam, mulai dari yang ’ngeyel’ minta didahulukan sampai yang sabar menanti. Yang aku suka dari ibu penjualnya adalah melayani dengan prinsip first come first serve, apakah mau makan di tempat atau pun di bawa pulang ya judulnya harus ngantri.

Selama beberapa hari berada di Malang, hampir setiap pagi aku sempatkan untuk nongkrong di sini, aku pikir mumpung berada di Malang sekalian aja aku puas - puasin deh makannya daripada ngiler.

nasi bukYang khas dan selalu ada di nasi Buk adalah dendeng ragi, terbuat dari kelapa dan dendeng daging, juga sayur lodeh nangka muda + tahu gembos serta serundeng kelapa ikut meramaikan isi dari nasi Buk ini. Untuk lauk bisa dipilih telor godog, ayam, empal, babat dan beberapa jenis jeroan lainnya.

Nah, inilah wajah dari si penjual yang bikin pelanggannya rela untuk ngantri dan datang setiap hari tak terkecuali aku pun ikutan ngantri demi makanan yang bikin lidah bergoyang.

Zev and Kokiers, aku mencoba mengarsipkan artikel masakan yang pernah aku kirim di sini www.infomakan.com

Sampai jumpa di petualangan lidah berikutnya

Penulis : PLUX - Jakarta
Sumber: Kompas Community

Wisata Malam Kota Malang




Malang, Kota yang terkenal dengan apel malang nya, baru-baru ini telah meraih penghargaan sebagai Kota Pusa Indonesia dari Indonesia Heritage Trust perwakilan International national Trus Organisation (NTO) yang berpusat di London pada 7 Mei di Jakarta.

Kota Malang memang memiliki pesona pariwisata yang luar biasa bukan hanya di siang hari melainkan ketika hari sudah mulai menjelang malam. Salah satu kota di Malang yang memiliki wisata malam yang bergemerlap adalah Batu. Tak lengkap jika mengunjungi Batu , Malang ini kalau tidak mengunjungi Batu Night Spectacular. Wisata yang berlokasi di Desa Oro-oro Ombo ini menyediakan berbagai aneka wahana yang bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.

Wahana yang tersediapun sseperti Galeri Hantu, Slalom Tes, Sepeda Udara TInggi, lampion Garden dan Trampoline. Jika kalian ingin menguji adrenalin kalian bisa menikmati beberapa wahana seperti Drag Race, Moise Coaster,dan Lainnya. Dan untuk anak-anak pun tidak kalah seru, wahana yang disajikan untuk para anak adalah KIds Zone yang didalamnya terdapat 25 permainan yang membuat anak-anak akan senang.

Jika anda sudah capek untuk menikmati seluruh wahana yang ada kalian bisa ke Night Market. di Night Market ini tak hanya disuguhkan oleh-oleh khas kota Malang juga kalian akan menemui kebutuhan-kebutuhan lainnya. dan jika kita kebagian ujung dari Night Market ini kita akan menemukan kursi yang berjajar yang disediakan untuk kita menikmati makanan & minumana khas kota Batu, Malang di food court tersebut sesuai dengan selera.
Sambil menikmati makanan dan minuman dari food court tersebut disana, Management dari BNS akan memanjakan kalian dengan Show Time.

sumber: Lakupon.com

Sabtu, 29 Juni 2013

Bukan Ayam Goreng Biasa



Bendungan HilirBanyak sekali ayam goreng menjadi sajian menu unggulan di restoran yang bertebaran di Jakarta. Ada yang hanya di goreng begitu saja setelah di bumbui tentunya, ada pula yang di balut dengan tepung. Bumbu – bumbu yang digunakan pun bervariasi dari yang sederhana hanya dengan bawang putih, garam dan ketumbar ada pula yang menambahkan dengan bumbu – bumbu yang banyak macamnya.

Salah satu rumah makan yang menyajikan ayam goreng yang khas adalah Riung Tenda yang terletak di bilangan Benhil. Tepatnya di Jl. Bendungan Hilir Raya No. 126 Jakarta Pusat. Di rumah makan ini disajikan aneka hidangan khas Sunda tentu saja tak ketinggalan sambal dan lalapan yang menjadi ciri khas makanan Sunda.

Bendungan HilirEntah mengapa kalau makan ayam goreng disini selalu saja aku habiskan sampai ke kulit – kulitnya alias tinggal tulangnya saja yang tersisa. Biasanya aku selalu menghindari bagian sayap tetapi di tempat makan yang satu ini hmmmmmm...  rasa dari ayam gorengnya benar – benar menggoda apalagi jika di padu dengan nasi uduk hmmmm seakan satu potong masih belum cukup. Gurihnya nasi uduk pas menjadikan rasa ayam gorengnya semakin mantap.

Bendungan HilirBukan hanya ayam gorengnya saja yang nikmat, ikan mujaer yang di goreng kering juga tak kalah menggoda untuk di santap. Hmmm benar – benar nikmat. Apalagi di tambah dengan cah kangkung, lengkaplah makan siang kali ini.

Sebagai hidangan penutup es doger bisa dijadikan pilihan. Rasa dari hidangan ini seakan melengkapi kenikmatan dari hidangan utama. Hmmm....

Sampai jumpa di petualangan lidah berikutnya

Penulis : Plux - Jakarta
Sumber : KOMPAS

Kamis, 27 Juni 2013

Mau Coba Makan Ala Samurai?



Sering bingung pilih makanan enak dan tentunya sesuai selera dan mood? Aha, pasti deh kokiers semua pernah mengalami ini. Dan ujung-ujungnya cuma memesan nasi goreng atau mie goreng...haha ... Coba, deh menu ala Nihon Jin atau orang-orang Jepang ini. Banyak orang di berbagai belahan dunia memuji makanan Jepang yang katanya enak dan sehat. Benar?

Hasil pengamatan sementara ini jawabannya, iya deh. Dilihat dari bahannya sudah pasti berkualitas -- soalnya beberapa makanannya biasa dimakan segar -- dan pengolahannya pun sederhana. Contohnya, ikan yang dimakan mentah seperti sushi dan sashimi – ah, ini mah berita basi, ya – tapi sekarang daging sapi pun dimakan mentah, lho. Tinggal dicelup ke soyu lalu lep... hm, oishi (enak). Sayuran dan rumput lautnya juga enak banget dimakan gitu aja.  

Masakan para keturunan samurai ini tidak dimasak dengan bumbu aneka ragam. Bumbu dasar yang selalu dipakai cuma garam, gula pasir, soyu, mirin, sake, minyak wijen dan bijinya. Miso atau fermentasi kacang kedelai dan gandum sebagai bahan utama sup. Bawang putih dan merah nyaris tidak dipakai malah daun bawang mentah hampir selalu hadir.

Sementara sayur yang paling disukai kalau melirik keranjang belanjaan para ibu adalah aneka rumput laut yang kerap di sajikan mentah untuk salad, daikon atau lobak, turnip, ketimun, terong yang berwarna ungu, wortel, akar teratai dan konnyaku sebagai tumisan atau sup.

Oh, ya kacang merah merupakan menu favorit, entah dicampur ke dalam nasi, tumisan atau isi aneka kue. Tahu, ini dia, tersedia puluhan macam tofu. Sebagai umpan tekak, ada pilihan tahu sutera dingin disiram light soy sauce, parutan jahe muda dan dihias irisan daun bawang. Coba, deh. Halus meluncur di kerongkongan dan ada sensasi lembut di lidah! 

Bagaimana dengan menu daging-dagingan?

Ikan tentu tetap ichiban atau pilihan nomor satu. Kalau kita ke swalayan, maka gerai ikanlah yang terbesar. Aneka bentuk dan warna, asyik deh. Untuk kaldu, Nihon Jin biasa memakai kombu atau rumput laut yang direbus sepuluh menit dan atau bonito flakes atau ikan bonito yang diasap, lalu diparut tipis-tipis. Nah, parutan itu direbus menjadi kaldu yang amboi rasa dan harumnya. Sedap!

Setelah ikan di posisi pertama maka pilihan kedua adalah ...ikan lagi, baru yang lain-lain..hahaha...Yaa bisa daging sapi, ayam atau telur. Ada cerita lucu, saat pertama kali makan telur dadar di sini, lidah saya shock karena rasanya manis!

Lalu, bagaimana cara memasak sayurannya?

Sederhana, banget. Walaupun ada yang digoreng atau tempura, rata-rata, sih di simmered begitu saja, dimasak dengan medium heat jadi warna sayuran tetap cerah dan gizi terjaga. Atau mentah sekalian.

Nasi Jepang yang pulen dan manis kontras sekali dengan masakannya yang minim bumbu. Ketika dikawinkan keduanya menjadi luar biasa. 

Nasi beras merah bukan hal aneh, begitu juga nasi dicampur kacang-kacangan, wijen, chesnut, kacang merah, teri, nori atau ditabur telur ikan.

Para samurai modern ini juga masih mempraktekan hara hachi bunme. Itu, lho makan 80 persen kenyang! Mereka juga sangat menikmati makanannya. Disumpit sedikit demi sedikit. Makanan pun disajikan sedikit dan mungil-mungil dalam wadah cantik. Semangat Zen yang kental.

Nggak heran, lho masih sedikit orang Jepang yang gemuk kecuali para jagoan shumo..hihi..Selebihnya, slim aduhai...

Tahun 2004 WHO pernah mengumumkan bahwa Jepang berada di posisi hampir terbawah di mana penduduk pria dan wanitanya cuma 3 persen saja yang mengalami obesitas.

Tidak itu saja, nenek dan kakek yang berumur panjang pun buanyaak di sini. WHO juga mengatakan bahwa umur panjang dan tingkat kesehatan wanita Jepang berada di urutan tertinggi di antara 124 negara yang diriset. Ck..ck..

Penulis : Ria Hidayat - Jepang
Sumber : KOMPAS

Senin, 24 Juni 2013

'Sotong Pangkong' Jajanan Khas Ramadhan


Sotong PangkongMalam hari pada bulan Ramadhan ini coba langkahkan kaki atau tujukan kendaraan anda di sepanjang jalan Merdeka Barat Kota Pontianak, di sana sambil menunggu umat Muslim usai shalat isya' dan tarawih hampir sepanjang jalan terlihat beberapa warung yang khusus bermunculan hanya pada saat bulan Ramadhan.

Tidak lain dan tidak bukan warung-warung kecil tersebut menawarkan sesuatu yang sangat istimewa bagi penggemar makanan jenis seafood yakni 'sotong pangkong' atau cumi-cumi yang sudah dikeringkan dan dibakar dengan pengapian arang kemudian disajikan dengan sambal yang istimewa, ada yang menggunakan kacang tanah dan ada yang menggunakan jeruk nipis.

Sotong PangkongKetika Harian BERKAT bertandang di 'waroeng rakyat', salah satu warung yang khusus menyediakan menu sotong pangkong milik Ibu Jamilah yang berada tepat di depan masjid Sirajul Munir.

Sambil mempersiapkan pesanan para pelanggan Jamilah memaparkan, bahwa kesempatan menjual sotong pangkong hanya satu tahun sekali. Hanya di bulan Ramadhan jajanan sotong pangkong begitu diminati kehadirannya.

Dengan ukuran sotong yang berbeda, harganyapun berbeda, ada paket ekonomi yang ditawarkan Jamilah berkisar Rp 5.000, semakin besar sotong yang dipesan, maka harganyapun semakin mahal bahkan per ekornya ada yang mencapai Rp 20.000 per porsinya.

Sotong PangkongUntuk memberikan pelayanan dan rasa yang terbaik Jamilah menyediakan dua menu sotong pangkong yakni usai dibakar sotong tersebut dipangkong secara tradisional hingga kelihatan empuk untuk dikunyah, menu berikutnya sebelum dibakar sotong kering tersebut digiling terlebih dahulu agar lebih lembut.

Untuk minggu pertama bulan puasa Jamilah mengakui pendapatannya berkisar Rp 350.000-Rp 400.000, dan seperti tahun lalu pada dua minggu terakhir menjelang lebaran, jajanan sotong pangkong sangat diminati atau laris manis.

Usai shalat tarawih adalah puncak kesibukan bagi Jamilah, sebab secara serentak para jama'ah masjid menyerbu warungnya memesan sotong pangkong, sehingga mengantisipasi hal tersebut Jamilah menambah tenaga pekerjanya yang terdiri dari saudaranya sendiri.

"Keuntungan dari penjualan sotong pangkong, sangat membantu perekonomian keluarga, apalagi menjelang lebaran segala kebutuhan selalu meningkat," ujar Ibu muda yang memiliki jiwa wirausaha ini.

Sotong PangkongDitempat yang sama, M. Andre warga Sungai Raya Dalam dan seorang pelanggan sotong pangkong mengakui hampir setiap tahun Ia sering menghabiskan waktunya sambil bersantai dan menikmati indahnya salah satu sudut pemandangan malam di Kota Pontianak.

Andre mengakui, sotong pangkong yang berada di sepanjang jalan Merdeka Barat tergolong lebih ekonomis, makanya tak heran jika setiap bulan Ramadhan sotong pangkong adalah makanan yang digemari oleh berbagai lapisan masyarakat.

Penulis : adi
Sumber: Harian BERKAT

Kamis, 06 Juni 2013

Malam-Malam di Medan



Medan merupakan kota yang majemuk. Keberagaman etnik dan budaya masyarakatnya itu tercermin dari sajian makanan yang beraneka ragam. Kelebihan itu memberi dampak positif karena citarasa makanan khasnya dapat dinikmati lidah setiap orang, bahkan pendatang. Anugerah tersebut dimanfaatkan betul oleh masyarakatnya. Hampir di setiap sudut kota kita jumpai tempat jajanan dengan konsep-konsep yang istimewa.
 Ya, Medan adalah surga makanan.

Pukul empat sore, penulis bersama rombongan baru saja tiba dari Brastagi yang dingin. Setelah rehat sejenak, kami bersiap untuk menyusuri sudut-sudut kota Medan di waktu malam. Berkeliling kota dengan becak khas kota itu sebuah pilihan yang bijak. Sebab, pengemudinya bisa menjadi pemandu yang tepercaya.

Di Medan, kita tak perlu khawatir mencari tempat untuk sekadar melepas penat. Ingin jajanan malam, pergilah ke semua sudut kota, mulai dari yang pinggiran sampai ke jantung kota. Sebagai saran, mulailah dari titik nol kota Medan, yaitu Lapangan Merdeka Medan. Di sana ada Merdeka Walk, yang juga dilengkapi dengan permainan anak-anak.


Merdeka Walk merupakan salah satu objek wisata kuliner yang menawarkan konsep ”food, fun and leisure”. Kalau tak sedang musim hujan, kita bisa menikmati santapan dalam udara terbuka, di bawah langit cerah penuh bintang. Kalau bulan sedang purnama, wah sangat eksotis.

Merdeka Walk yang dibangun oleh PT Orange Indonesia dengan dukungan Wali Kota Medan itu berada di sisi barat Lapangan Merdeka dan menggunakan lahan seluas 6.600 meter persegi. Penataannya yang modern plus suasana asri dan sejuk karena masih terjaganya kelestarian pepohonan yang tumbuh di sekitarnya, akan membuat kita betah berlama-lama sembari menikmati sajian aneka hidangan mulai dari masakan tradisional, China, atau Barat.

Malam itu, sekitar pukul 20.00, kami sampai di tempat makan yang dikenal sebagai lambang gaulnya kota Medan. Merdeka Walk memang berbeda dari kebanyakan mal. Kalau umumnya mal modern berdiri garang menjulang ke angkasa, bangunan Merdeka Walk membentang melebar di atas tanah terbuka, tanpa penyejuk udara, dan menyediakan tempat berjalan kaki yang luas.

Akses menuju kawasan itu pun cukup mudah. Kendaraan umum hilir-mudik di depan Merdeka Walk. Yang membawa kendaraan pribadi bisa leluasa memarkir kendaraan. Sebab, tempat parkir kawasan itu mengelilingi Lapangan Merdeka.

Karena berada di tempat terbuka dan cukup luas, Merdeka Walk terasa lega dan lapang. Apalagi berada di jantung kota yang punya sejumlah bangunan tua. Sembari menunggu pesanan makanan datang, kita bisa melemparkan pandangan ke arah bangunan tua, saksi bisu perkembangan kota itu.

Di depan Merdeka Walk, di seberang jalan, beberapa gedung bersejarah berdiri kukuh dengan masih menyisakan arsitektur khas Belanda setelah renovasi di sana-sini, seperti Gedung PT London Sumatra, Gedung Wali Kota Medan, Hotel Darma Deli, dan Gedung Kantor Pos.

Merdeka Walk juga dekat dengan Menara Air Tirtonadi (yang merupakan ikon kota Medan) dan Titi Gantung, sebuah jembatan di atas rel kereta api, serta kawasan Kesawan, yang juga memililiki bangunan dan rumah-rumah toko tua seperti yang bisa ditemukan di Pecinan dan Kota Lama Semarang.

Kawasan Kesawan sebenarnya lebih dulu diorbitkan Pemerintah Kota Medan sebagai pusat jajanan malam Kota Medan. Satu jalan sengaja ditutup dan digunakan sebagai tempat orang menjajakan makanan atau yang biasa disebut sebagai Kesawan Square.

Agak jauh dari Lapangan Merdeka, masih ada beberapa bangunan bersejarah, seperti Masjid Raya Medan dan Istana Maimun. Istana ini masih mempertahankan tradisi membagi-bagikan bubur khasnya itu kepada jamaah setiap Ramadan.

Berkeliling kota Medan tidak lengkap kalau kita tidak menyusuri jalan Ahmad Yani yang merupakan kawasan Pecinan di Medan. Berada pada inti kota yang dulu dikenal dengan nama ”Kesawan”, jalan tersebut merupakan daerah pertokoan dan pusat bisnis pada siang hari, dan pada malam hari menjadi tempat berjualan berbagai jenis makanan khas kota. Jika Yogyakarta memiliki Malioboro dan Bandung punya Braga sebagai kawasan yang menjadi ciri khasnya, maka warga Medan boleh berbangga diri dengan Kesawan sebagai ikon baru yang menjadi ciri khas kota.

Selain kawasan Kesawan Square yang mulai kalah bersaing dengan Merdeka Walk, di sana terdapat bangunan bangunan tua yang bersejarah. Ada sebuah bangunan rumah etnis kuno dengan pintu gerbang yang besar dan berpintu kayu tua dan dua lampu lampion tergantung menyala indah di depannya. Nuansa Pecinan seperti terwakili oleh rumah tersebut.

Rumah siapa itu? Rumah itu peninggalan Tjong A Fie. Bangunannya indah.Bentuk pintu gerbangnya terlihat etnikal, dengan ukir-ukiran khas China. Pun lampionnya, tergantung anggun, seperti di film-film silat Mandarin zaman dulu.

Yang pasti, Kesawan betul-betul masih membawa napas Kota Medan zaman dulu, ditandai dengan bangunan-bangunan lama berarsitektur perpaduan gaya Tionghoa dan kolonial Belanda. Beberapa bangunan yang menjadi ciri khas Kota Medan terdapat di area ini, termasuk rumah Tjong A Fie, jutawan tembakau di tahun 1910.

Siapa Tjong A Fie? Dia adalah Mayor China di Medan, seorang miliarder pertama di Sumatera. Hingga kini namanya terus dikenang di Kota Medan, meski dia sudah meninggal pada tahun 1921. Pada Tahun 1870 Tjong A Fie dan kakaknya, Tjong Yong Hian meninggalkan Desa Moy Hian, Kanton di daratan China untuk merantau ke Tanah Deli sebagai kuli kontrak di perkebunan Tembakau.

Kakak beradik ini sangat jeli melihat peluang bisnis. Pada suatu kesempatan mereka tinggal menetap di ibu kota Labuhan Deli dan membuka kedai dengan nama Ban Yun Tjong. Tjong A Fie tahu betul kebutuhan kuli-kuli China dan perantau lainnya yang baru tiba di Tanah Deli sehingga dalam waktu singkat saja dia sudah jadi kaya raya. Keberhasilan usahanya semakin bertambah.

Sampai saat ini bangunan tua bersejarah yang berada di areal Kesawan adalah merupakan tempat tinggal keluarga Tjong A Fie dan keturunannya yang kali pertama dibangun di kawasan tersebut. Gedung tua ini menggambarkan budaya sekaligus keuletan kelompok etnis Tionghoa yang sejak ratusan tahun menetap di Tanah Deli. Gedung tua yang berada di Kesawan (Tapekongstraat) ini milik Tjong A Fie, sahabat dekat Sultan Deli.

Jangan Lupa Bika Ambon dan Durian

Orang bilang, kita belum bisa dikatakan pergi ke Medan kalau belum makan bika Ambon. Itu memang oleh-oleh khas kota tersebut selain sirup markisa dan terong Belanda. Pusat jajanan yang menjajakan semua cangkingan itu ada di Jalan Mojopahit. Di sana berjajar toko penjual bika Ambon.

Jika naik bentor (becak motor), kita tinggal bilang mau ke Jalan Mojopahit, maka pengemudinya langsung tahu yang kita maksud. Para sopir bentor itu sudah punya langganan masing-masing karena mereka akan mendapatkan fee dari toko yang mereka rujuk.

Konon, bika Ambon paling enak dijual di toko jajanan Zulaeha. Penulis meluncur ke sana dengan bentor. Di situ, ada beberapa macam bika Ambon. Ada yang standar, rasa cokelat, pandan, dan keju. Yang tidak sempat untuk mampir ke sentra bika Ambon, dapat membeli oleh-oleh itu di toko-toko dekat hotel maupun beberapa pertokoan di bandara.

Setelah beroleh bika Ambon, rasanya sudah tiba saatnya untuk berburu buah durian. Yup, buah berduri asal Medan ini memang terkenal di seantero negeri. Apalagi tatkala musim durian telah tiba, harganya bisa jauh lebih murah lagi dibanding saat belum musimnya. Musim buah durian biasanya pada bulan November sampai Februari.

Nah, untuk menikmati rasa buah yang manis dengan ada rasa pahitnya ini kita tak perlu repot karena banyak penjualnya di sejumlah ruas jalan Kota Medan. Namun tempat yang paling pavorit antara lain Jalan Iskandar Muda (Pasar Pringgan), Jalan Bogor di persimpangan Jalan Semarang, Jalan Pelajar, dan masih banyak lagi sentra buah durian. Di Jalan Pelajar ini sering kali puluhan mobil pikap menurunkan buah durian dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Para pedagang durian umumnya mengambil durian dari mobil itu sebelum dijual kembali.

Untuk harga satu buah durian, kita bisa dapatkan hanya dengan Rp 4-10 ribu saja. Rasanya? Jangan ditanya. Jangan ragu-ragu menjadikan durian sebagai oleh-oleh keluarga di rumah. Mereka menyediakan boks-boks dalam berbagai ukuran. Ada yang kecil, sedang, dan besar.

Soal harga tentu bervariasi sesuai dengan bentuk boks. Untuk boks kecil mereka mematok harga Rp 100 ribu, boks sedang Rp 150 ribu, dan boks besar Rp 200 ribu. Itu semua masih bisa kita tawar. Semakin pintar menawar, pasti semakin murah harganya.

Mereka pun memberikan jasa gratis mengepak boks tersebut menjadi rapi. Rapat dan sangat kedap udara agar bau durian tidak keluar membaui lingkungan sekitar. Karena memang buah Durian dilarang dalam perjalanan dengan pesawat udara, maka kita harus pandai untuk mengepak agar baunya tidak ke mana-mana. Boks digulung rapat-rapat dengan lakban sebelum dimasukkan ke dalam plastik yang telah di isi irisan daun pandan. Setelah itu boks dimasukkan ke dalam kardus yang juga ditaburi bubuk kopi. Dengan demikian, aroma buah durian sudah tidak dapat lagi dibaui orang yang ada di sekitarnya.

Sumber: SuaraMerdeka
foto : tripadvisor.com, tirong, bakeryindonesiamag, pemkomedan, kun.co.ro

Sabtu, 13 April 2013

Kebun Raya Cibodas





Menyebut Cibodas, pikiran akan melayang pada bayangan daerah hijau bergelombang dengan latar dua puncak gunung. Cibodas memang adalah salah satu daerah tujuan wisata. Sepanjang waktu, terlebih di musim libur, daerah ini selalu ramai dikunjungi, khususnya Kebun Raya Cibodas (KRC) yang legendaris itu. Sayang, kebun ini baru dianggap sebagai taman rekreasi, bukan sebagai tempat koleksi flora pegunungan terlengkap, dan juga bukan sebagai kebun penelitian. Jika ditangani secara sungguh-sungguh bukan tidak mungkin wisata arkeologi akan mendapat tempat di dunia pariwisata. Selama ini wisata arkeologi agaknya hanya bertumpu pada Candi Borobudur. Padahal sebenarnya peninggalan-peninggalan arkeologi di Indonesia sangat banyak jumlah dan ragamnya.

Di musim libur, karpet hijau KRC nyaris tertutup oleh alas pengunjung. Dari catatan pengelola, setiap tahun KRC dikunjungi tidak kurang dari satu juta orang. Hanya lima persen saja pengunjung yang tercatat dari mancanegara.

Sudah jadi kebiasaan, pengunjung negeri sendiri gemar sekali berleha-leha di bawah pohon tinggi dengan beralaskan tikar. Malah, ada yang datang hanya untuk menikmati udara segar sambil makan bekal bersama keluarga. Habis itu leha-leha di bawah pohon nan rindang.

Kenyataan ini diakui Ir. Holif Immamudin, Kepala Unit Pelaksana Teknis Balai Konservasi Tumbuhan KRC. ”Memang pengunjung yang peduli dengan informasi tumbuhan dan kebun jumlahnya tak sampai sepuluh persen.”

Perlu Dana
Anggapan hanya sebatas taman rekreasi tentu tak menguntungkan KRC. Padahal, sebagai balai konservasi tumbuhan KRC berpotensi mengembangkan ”jualannya”. Beragam obyek wisata yang dimiliki bisa didorong jadi primadona kawasan. Kalau lancar, dana yang terkumpul bisa menambal kas KRC. Kata Holif, dana rutin sebesar 2,4 milyar rupiah per bulan dirasakan terlalu minim untuk mengelola kebun seluas 125 hektare ini.

Belanja bulanan sudah habis sekitar 1,7 milyar rupiah, termasuk bayar listrik dan telepon sekitar 8 jutaan. Sisanya dialokasikan untuk menutup ongkos perawatan dan pemeliharaan kebun. ”Nah, bisa dibayangkan, mana cukup uang segitu buat merawat kebun,” timpal Didin Ahmad Nurdin, Kasubag Tata Usaha KRC.

Meski terasa kurang, Holif dan Didin masih punya harapan dalam mengelola kebun konservasi ini. Terlebih sejak tahun lalu status KRC telah naik jabatan, dari eselon IV ke eselon III. Alhasil, bila sebelumnya cabang balai saat ini menjadi Unit Pelaksana Teknis Balai Konservasi Tumbuhan lewat SK Kepala LIPI No. 1017/M/2002. ”Adanya perubahan ini membuat kami jadi lebih mandiri.”
Untuk membuktikan ”kehebatan” KRC Didin dan Holif mengajak berkeliling sejumlah wartawan Ibu Kota beberapa waktu lalu. Awal perjalanan dimulai dengan melihat rumah bertingkat yang sudah dibangun dari zaman Belanda. Pada masa itu, rumah ini dipakai sebagai rumah administratur kebun.

Rumah ini disewakan kepada pengunjung yang tertarik menginap. Harganya, 800.000 perak dengan fasilitas, lima kamar, tv, water heater dan lainnya. Sedang untuk ransum, dipungut 35.000 per orang, makan ”berat” tiga kali dan kudapan dua kali.

Bunga Bangkai
Puas melongok bangunan yang pernah direnovasi pada 1946 -1947 ini, kami berjalan menuju tanaman Amorphophallus titanum. Sebagian wartawan memang sudah begitu ngebet pengen melihat tanaman langka ini. Apalagi Holif sudah banyak cerita kalau bunga tanaman ini akan mekar dalam waktu beberapa hari.
Amorphophallus titanum koleksi kebun yang baru saja berulang tahun ke 151 pada 11 April lalu, didapat dari eksplorasi di Danau Gunung Tujuh Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi. Tanaman ini diambil pada ketinggian 1450 meter dpl pada 9 Juni 2000. Dan ditanam pertama kali dalam bentuk umbi di Cibodas pada 26 Juni 2000.

Rencana ke depan, Holif dan kawan-kawan akan membangun taman khusus untuk Amorphophallus. Lokasinya sudah disiapkan, tak seberapa jauh dari rumah bertingkat. Ini yang bakal jadi primadona berikut KRC. ”Kakak” nya, Kebun Raya Bogor (KRB), saja tak punya kebun sejenis.

”Kami ingin taman khusus ini jadi point of interest dari wisatawan. Tentunya dikembangkan dengan basis konservasi yang dipadukan dengan nilai estetikanya,” jelas Holif. Selain taman Amorphophallus, juga akan dibangun taman Rhododendron, taman Medinilla, taman Sakura dan Sakura Avenue.

Rumah Kaca
Tujuan wisata berikutnya rumah kaca. Ada lima buah rumah kaca yang bisa ditemui, kaktus, sukulen, anggrek, penjualan tanaman dan persemaian. Untuk rumah kaca kaktus dan sukulen menampung 353 jenis. Koleksinya datang dari seluruh dunia, termasuk Agave, Dracaena, Sansevieria, Yucca dan Aloe.

Paling asyik melihat-lihat rumah kaca anggrek. Jangan bandingkan rumah koleksi anggrek Cibodas dengan rumah sejenis di KRB. Teknologinya memang jauh tertinggal. Tapi tidak untuk koleksinya. Anggrek yang ada di KRC, hampir semuanya berasal dari alam. Hanya ada sebagian kecil yang dihasilkan dari persilangan. Bila ditotal, ada 320 jenis anggrek yang mengisi rumah kaca.

Koleksi anggrek yang dimiliki mencakup jenis epifit (menempel di pohon) dan terestrial (hidup di atas tanah). Tarman Jodi, petugas pemelihara anggrek dengan bangga menunjukkan beberapa koleksi spesial, seperti Phalaenopsis amabilis (Maluku), Goelogyne panderata (Kalimantan), Paphiopedilum yogyae, Paphiopedilum javanicum, Dendrobium flox (Habema, Papua) dan Epigenium triflorum (Jambi).

”Tapi kenapa ya nggak banyak yang berbunga,” keluh salah seorang ibu. Soal itu, Tarman menjelaskan dengan sabar. Alasannya, anggrek koleksi KRC merupakan jenis asli dari alam, tentu dibutuhkan penanganan secara khusus. Lagipula masa berbunga anggrek alam tak pernah berbarengan dan tak terlampau sering ketimbang jenis hibrida.

Jalan-jalan keliling KRC ini sebetulnya bisa jadi paket jualan yang menarik. Dikemas dengan unsur pendidikan lingkungan yang kental dan bumbu permainan tentu pengunjung pun akan tertarik. Kreativitas memang jadi tuntutan. ”Kami sudah melakukan itu, namanya Repling, singkatan dari Rute Pendidikan Lingkungan. Tapi pesertanya masih terbatas dari siswa sekolah,” sebut Holif.

Penulis : Bayu Dwi Mardana
Sumber : Sinar Harapan

Selasa, 09 April 2013

Rayavadee, Wisata Andalan Thailand


Jika dalam suasana liburan, Anda bisa mampir ke Thailand untuk menikmati beberapa tempat yang menjadi tempat andalan. Misalnya saja Rayavadee yang menawarkan keindahan pantai dan tempat penginapan untuk para artis. 

Untuk tiba di Rayavadee, Anda perlu waktu pergi ke semenanjung di 500 kilometer ke arah selatan Kota Bangkok. Ini adalah sebuah pengalaman yang tak terlupakan dalam hidup semua orang. 

Menariknya lagi, Resort Rayavadee mudah diakses dengan sebuah kapal speedboat yang diberangkatkan dari sebuah dermaga di Kota Krabi. Sambil menikmati perjalanan, Anda menyaksikan keindahan Pantai Phra Nang di luar sana. 

Rayavadee menempati lahan seluas 26 hektar yang dipenuhi taman-taman indah dan cocok untuk berbulan madu bagi para artis, seperti Gwyneth Paltrow, Kate Moss dan Colin Farrell maupun wisatawan biasa 

Rayavadee atau 'Tanah Princess' adalah salah satu tempat wisata di sudut pantai terbesar, Phra Nang yang berada di tepi Taman Nasional Laut Krabi. Di dekatnya juga terdapat gua Tham Phra Nang yang dipercaya penduduk lokal sebagai tempat tinggal Dewi Putri. 

Menurut sejarah, para nelayan biasanya selalu berdoa kepada Phra Nang untuk mendapatkan keberuntungan saat pergi ke melaut dan pulang kembali sambil membawakan dupa beserta bunga. 

Saat pergi ke gua pun, Anda diharuskan membawa karangan bunga melati yang diikat pita cantik dan lilin. Upaya ini dilakukan sebagai persembahan kepada Dewi Yang Agung. Di dalam gua juga ada tumpukan kayu yang dicat warna cerah 

Bagi Anda yang berminat, bisa bergabung dengan Cleveland Collection (www.clevelandcollection.co.u) yang menawarkan perjalanan tujuh malam di Rayavadee, Krabi, dan dua malam di Sukhothai Bangkok. 

Dengan biaya sebesar £ 5.860 (Rp 82 juta), berbagi paviliun mewah di Rayavadee dan sebuah studio mewah di, Sukhothai B & B bisa dinikmati oleh dua orang dewasa dan satu anak di bawah umur 12 tahun. Informasi selengkapnya bisa dilihat di www.tourismthailand.co.uk.(*/X-13)mediaindonesia

Sabtu, 06 April 2013

Rekreasi dan Belajar Bersama Anak di Jendela Alam



INGIN mengajak anak Anda liburan sambil belajar? Sebuah arena bernama Jendela Alam hadir untuk membantu anda memberikan hiburan serta edukasi untuk anak Anda secara bersamaan. 

Dengan atmosfir keindahan alam dan udara yang sejuk, di sini Anda bisa melibatkan anak dalam ragam kegiatan pertanian seperti bercocok tanam, pembibitan, perkebunan dan kegiatan peternakan, melihat kegiatan memerah susu sapi, menunggang kuda poni, serta memberi makan kelinci, ayam dan bebek 

Program edukasi yang disediakan Jendela Alam mulai dari level Play Group hingga SMA. Ada pula penawaran kegiatan untuk individu dan instansi. Tempat ini juga cocok untuk wisata keluarga karena bisa dinikmati anak-anak dan orang dewasa. 

Ajak anak anda menikmati pilihan arena di Jembatan Alam dengan ragam fasilitas di tiap masing-masing arenanya, seperti: 

Jendala air 

Tersedia kolam renang dengan kedalaman bervariasi, water ball, sarana edukasi A.B.S.A.H (Akuifer Buatan Simpanan Air Hujan) yang menjelaskan tentang pemanfaatan air hujan, Aquascaping (kegiatan memindahkan mahluk air baik berupa tanaman maupun hewan kedalam sebuah aquarium), dan sarana penjernihan air untuk melihat secara langsung proses penjernihan air. 

Jendela tumbuhan 

Di arena ini anda dan anak anda bisa mendapati pengetahuan tentang fungsi serta pengolahan tanaman-tanaman obat, mengunjungi kebun buah dan sayur, serta mendatangi tempat berisi tanaman-tanaman hias seperti tanaman anggrek yang tumbuh dalam botol. 

Jendela petualang 

Uji adrenalin anak anda dengan menaiki flying fox, V Bridge (permainan dengan cara perjalan diatas tali dengan berpegangan pada dua tali disamping kanan kiri), Jembatan goyang, halang rintang, dan papan panjat. 

Jendela bermain 

Arena ini dilengkapi dengan bak pasir, dan juga playground. Di sini Anda dan anak Anda bisa menikmati kegiatan bersepeda sambil menikmati keasrian suasana Jendela Alam, atau meloncat setinggi-tingginya di dalam trampoline. 

Jendela hewan 

Terdapat beberapan peternakan hewan seperti peternakan kelinci, peternakan kuda poni, peternakan ayam, peternakan kambing, kandang burung dan juga aneka koleksi hewan reptil. 

Lokasi: 

Jl. Sersan Bajuri Km 4.5 
Ledeng, Lembang, Bandung 

Jam Buka: 

Senin – Jumat: 9.00 – 16.00 WIB, 
Sabtu – Minggu: 8.00 – 16.00 WIB 

Jika tertarik untuk mengajak anak Anda ke Jembatan Alam, kelengkapan informasi bisa didapatkan melalui situs jendela-alam.com. (*/X-13)media indonesia

Kamis, 04 April 2013

Sentra tas kulit, Cikutra



Untuk mencapainya harus melewati sebuah gang sempit di kawasan Cikutra. Dari salah satu rumah yang letaknya berdempetan inilah kerajinan tas kulit asal Bandung diproduksi untuk memenuhi permintaan ke berbagai kota di Indonesia.
Ruang tamu merangkap ruang pajang itu tidak terlalu luas. Di kiri dan kanan tembok terdapat rak-rak yang berisi deretan tas dengan pilihan warna beragam. Satu model tas biasanya terdiri atas tiga sampai empat warna.
Sekilas pandang, ruangan itu didominasi tas untuk perempuan. Meskipun ada beberapa pasang sepatu pria sebagai ”pemanis” yang diletakkan di rak paling bawah.
Memang, produk utama dari industri rumahan bernama ”House of Leather” (HoL) ini adalah tas wanita. Untuk pelancong yang senang bertandang ke Bandung, gerai milik Ade Kusmana ini sudah menjadi salah satu ”detewe”, alias daerah tujuan wisata. Mungkin karena kualitas produknya yang memadai dengan harga terjangkau. Samakan kulitnya halus, jahitannya rapi, dan modelnya trendi.
Datanglah pada jam makan siang. Ruang pajang itu mulai dipenuhi pengunjung yang semuanya ibu-ibu yang sedang menikmati jam istirahat kantor. Ada yang sekadar mencari tahu apakah produk terbaru sudah dikeluarkan, ada yang menagih pesanan, juga yang langsung melakukan transaksi selusin sekaligus. Mungkin untuk dijual kembali.
Sistem yang dipakai HoL adalah jual putus. Artinya, pembeli yang ingin menjual kembali, termasuk dengan menempelkan merek di tasnya, dipersilakan saja. ”Kami hanya menerapkan harga dasar, yang berkisar dari Rp 200.000 sampai Rp 600.000, tergantung model tas,” kata Deden Sudiana, salah satu karyawan House of Leather.
Sistem penjualan seperti itu membuat produk industri rumahan ini menjadi incaran sejumlah pebisnis ritel yang memiliki akses ke mal-mal di kota besar, ataupun yang memiliki gerai pribadi. ”Lha, saya aja tahunya dari adik saya yang di Pekanbaru. Dia membeli di sana harganya Rp 400.000 dan laku banget. Terus dia bilang pusatnya ada di Bandung. Harganya bisa separuhnya,” kata Yani, yang siang itu sibuk mengumpulkan tas model kantong dari bermacam warna.
Pembeli lainnya juga mengaku tas asal HoL ini bisa dihargai tiga sampai empat kali lipat bila sudah sampai di mal eksklusif ataupun gerai elite seperti yang ada di Jalan Kemang, Jakarta. ”Setiap bulan kami memasok untuk toko-toko di Citos (Cilandak Town Square), Mangga Dua, Tanah Abang. Juga ke Cirebon, Medan, dan Riau,” kata Deden.
Rantai panjang
Tas kulit cantik yang dipajang di rak itu memiliki perjalanan cukup panjang. Tengoklah ke salah satu rumah yang berada di sekitar gerai HoL. Di situ, para tetangga sedang sibuk memotong lembaran kulit sapi yang didatangkan dari Tangerang, Karawang, dan Cianjur. Sementara pekerja lainnya menggunting dan menjahit sesuai pola yang diminta. Di dalam satu rumah, biasanya ada tiga sampai empat perajin. Saat ini ada lima rumah yang dijadikan tempat produksi.
Para perajin di rumah Suneni siang itu serentak mengerjakan satu desain tas, sejenis tote bag. ”Kalau model seperti ini kebetulan tak sulit, apalagi bahan kulitnya lunak sehingga dalam sehari kita bisa mengerjakan selusin,” ujar Suneni, yang bertugas menjahit.
Para pekerja ini umumnya bekerja dari pukul 08.00 sampai pukul 19.00. Upah yang diperoleh untuk pemotong adalah Rp 40.000-Rp 60.000 per lusin tas jadi. Adapun untuk penjahit sekitar Rp 200.000 per lusin tas jadi.
”Kalau sedang ramai, seminggu bisa dapat Rp 500.000 dan anak-anak (pemotong kulit) sekitar Rp 150.000. Lumayanlah, yang penting bisa makan,” kata Suneni yang memiliki tiga anak, dari yang berpendidikan TK sampai STM.
Setiap harinya para perajin ini memperoleh uang makan Rp 15.000 per orang, sementara untuk akomodasi mereka bisa tinggal di rumah Suneni. ”Kalau ada yang sakit, kami dikasih uang untuk berobat,” tuturnya.
Model tas yang diproduksi HoL biasanya terinspirasi dari berbagai jenis tas yang ada di majalah-majalah wanita. Namun, banyak juga pembeli yang membawa contoh jadi dan kemudian minta dibuatkan replikanya.
Suneni, misalnya, menunjukkan contoh gambar yang harus dikerjakannya. ”Dari semua proses ini, yang paling sulit adalah menjahit dengan benang besar, terutama untuk tas yang bentuknya kotak karena jahitan harus terjaga rapi meskipun bidangnya melengkung,” kata Suneni yang mengaku kontrol kualitas produk cukup ketat. ”Pernah juga tas yang kami produksi dikembalikan,” katanya.
Tertolong PKBL
House of Leather mulai memproduksi tas kulit untuk keperluan perorangan pada 1990-an. Pada awalnya, produksi tas hanya mengikuti order yang diminta oleh toko-toko tas di Bandung.
Kemudian, selama dua tahun HoL bekerja sama dengan sebuah toko tas di Bandung dengan cara konsinyasi (titip jual). Namun, tahun 1997-1998 krisis keuangan melanda Indonesia. Produksi pun berhenti.
HoL yang masih memiliki bahan baku kulit kemudian kembali melayani pesanan tas individual. ”Kebetulan kami punya ruangan sedikit di sini, ya, sudah dijadikan saja show room,” kata Deden.
Untunglah tahun 1999 HoL memperoleh bantuan modal dari Pertamina lewat Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dan menjadi mitra binaannya sampai sekarang.
”Selain modal, kami juga dibantu promosi. Hasilnya beda banget. Di tahun pertama saja kami sudah diajak mengisi pameran di Inacraft. Dari sana nama kami mulai dikenal. Order pun meningkat, terutama dari kalangan Dharma Wanita,” lanjut Deden.”
Kini, dalam sebulan HoL bisa menjual rata-rata 100 sampai 150 tas. Pesanan akan melonjak menjelang bulan puasa, bisa sampai 300 tas. Sementara omzet per bulan rata-rata mencapai Rp 20-30 juta. ”Kalau menjelang Ramadan, bisa mencapai Rp 50 juta, tetapi tidak pernah lebih dari itu,” ungkapnya.

Trik Liburan Murah ke Eropa


 

LIBURAN seru mengelilingi Eropa barangkali hanya menjadi impian bagi banyak orang. Dengan harga tiket pesawat yang menggila dan nilai tukar rupiah yang masih lemah, rencana berlibur ke sana mungkin bukan keputusan paling bijaksana. 

Kawasan Eropa Barat memang tak pernah menjadi destinasi liburan termurah. Tapi, ada sejumlah tips dari situs shine.yahoo.comberikut ini yang layak Anda coba: 

Kunjungi negara-negara krisis 
Bepergian ke negara-negara yang sedang mengalami krisis ekonomi seperti Yunani, Spanyol, Portugal, dan Irlandia dapat menjadi penghematan yang signifikan. Negara-negara tersebut saat ini sedang benar-benar mengharapkan kedatangan para wisatawan. Dengan kata lain, inilah kesempatan bagi Anda untuk mengeksplorasi pilihan. 

Apakah Anda ingin berbaring di pasir putih Santorini, menyantap sajian terbaik di Barcelona, atau menyusuri pedesaan di Irlandia? Sekaranglah waktu terbaik untuk menemukan penawaran spektakuler yang sudah ditunggu-tunggu. 

Terbang di hari kerja 
Cobalah untuk mengatur penerbangan selama hari kerja. Tiket pesawat biasanya jauh lebih murah untuk perjalanan di luar akhir pekan. 

Buat paket sendiri 
Jika benar-benar ingin berhemat, buat paket perjalanan sendiri atau cari paket yang telah dinegosiasikan oleh agen perjalanan. Dengan memesan penerbangan, hotel, dan transportasi darat pada saat yang sama dengan penggunaan situs perjalanan atau agen perjalanan, Anda dapat menghemat banyak uang. (Yul/OL-06) 

Selasa, 12 Maret 2013

Lokasi Pinggir Jalan, Rasa Tidak Kalah




Triit...triit.... Sebuah pesan pendek (short message service/ SMS) masuk ke hand phone saya. "Ada bubur ayam enak, persis di seberang pintu belakang Hotel Sahid. Buka jam 3 sore, jam 7 malam sudah habis. Sukamdani aja beli di situ!"
Sukamdani yang dimaksud adalah pemilik Hotel Sahid. Si pemberi info mahasiswi pada Program Magister Manajemen Univesitas Sahid yang berlokasi di Hotel Sahid, Jalan Jenderal Sudirman. Wow! Kalau info ini benar, bubur ayam itu pasti istimewa rasanya. Bayangkan, bubur ayam dari sebuah gerobak dorong di pinggir jalan menjadi langganan Pak Sukamdani?
Saya jadi penasaran. Rasanya saya tidak sabar menunggu sore untuk menyusuri Jalan KH Mas Mansyur, Jakarta Pusat arah Tanah Abang. Pintu belakang Hotel Sahid menghadap ke jalan itu. Tidak begitu penting apakah tempat itu benar langganan Pak Sukamdani atau bukan.

Di seberang pintu belakang Hotel Sahid itu ternyata ada dua tukang bubur ayam yang letaknya berdekatan. Keduanya berupa gerobak dorong, berada di trotoar, buka mulai pukul 15.00 dan sekitar pukul 19.00-20.00 sudah habis. Satu agak dekat ke gedung Standard Chartered Bank. Satu lagi memang persis di seberang pintu belakang Hotel Sahid, sebelum belokan ke arah Casa Blanca.

"Kalau soal enak mah sampir sama dah. Tapi kalo masalah rame, ramean yang di sana," kata seorang pedagang minuman sambil menunjuk ke tukang bubur yang terletak persis di seberang Hotel Sahid yang jadi incaran saya.

Pukul 15.15 wib saya sudah di tempat itu. Sejumlah mobil dan sepeda motor sudah parkir di situ. Yang bermobil umumnya menikmati bubur di dalam mobil. Yang bersepeda motor duduk di kursi plastik yang telah disedikan dan menikmati bubur di tempat terbuka.

Bubur ayam disajikan panas dan ditaburi kerupuk, emping, ayam disuwir, bawang goreng, dan daun seledri. Emm...tidak sia-sia saya mencari tempat ini. Mungkin memang benar tempat ini jadi langganan Pak Sukamdani hehe...

Bubur ayam merupakan salah satu menu yang jamak dijumpai di kaki lima. Banyak pula yang berupa gerobak dorong lalu berputar keliling kampung atau kompleks. Anda tinggal pilih sesuai selera.

Cikini dan Besuki

Di kawasan Cikini, Jakarta Pusat misalnya ada bubur ayam yang sudah lama ngetop. Bubur ayam Cikini yang berada di trotoar Jalan Cikini Raya, dekat restoran cepat saji KFC, sudah beroperasi sejak 1987 atau sudah hampir 21 tahun.

Saking ngetopnya, nama bubur Cikini pun dijiplak sejumlah orang. "Kami memang tidak bikin hak paten, jadi ada orang buka usaha bubur ayam pakai nama Bubur Cikini padahal tidak ada hubungan dengan kami. Kami tidak punya cabang," kata Toto alias Pa’ul salah pekerja di tempat itu. Untuk membedakan diri dengan para penjiplak, pemilik asli bubur Cikini, Haji Rustanjam, lalu menggunakan nama Bubur Ayam Cikini HR Sulaiman.

Bubur ayam Cikini hanya ditaburi emping, cakwe dan daging ayam. Namun rasanya emm... sedap! Tidak percaya? Tanyakan saja pada presenter televisi Dorce Gamalama atau pemain senitron Adam Jordan. "Dorce sering ke sini, dulu Adam Jordan juga sering. Kemarin ini ada Oneng," kata Pa’ul. Oneng yang dimaksud adalah Rieke Dyah Pitaloka.

Masih di Jakarta Pusat, di kawasan Menteng ada bubur ayam Besuki yang terletak di kakilima Jalan Besuki. Tetapnya di sebuah gerobak dorong di mulut Jalan Besuki, sebelah kanan jalan begitu masuk Jalan Besuki dari arah HOS Cokroaminoto. Bubur Besuki sudah memiliki cabang di Jalan Cik Ditiro, Menteng.


Penulis: Egidius Patnistik
Sumber : Kompas

Selasa, 05 Maret 2013

Berburu Barang Kaki Lima di Phuket




PatongSalah satu ciri khas turis Indonesia bila melancong ke luar negeri adalah memborong barang dan cenderamata untuk oleh-oleh. Tak peduli eksekutif atau karyawan bergaji pas-pasan, ketika mereka berada di luar negeri semua menjadi gelap mata. Mereka menganggap barang bermerek di luar negeri lebih murah dari Jakarta. Tak cuma itu, meski barang tiruan, khususnya di China dan Hongkong, kualitasnya tak kalah dengan barang asli, namun harganya miring. Seorang rekan sampai perlu membeli koper tambahan ketika berkunjung ke China karena ia membeli barang-barang yang sangat banyak.

Dalam hal berburu barang-barang kesukaan, para shophaholic kita pun lebih suka terbang ke Negeri Singa. Singapura dan Orchard Road-nya sudah begitu harum di telinga para penggila belanja. Di saat Singapura mengadakan pesta diskon besar-besaran, sudah menjadi ritual bagi sebagian masyarakat negeri ini untuk datang dan berburu barang dengan harga miring.

Berbeda halnya bila Anda berkunjung ke Phuket, Thailand, niat belanja itu tampaknya harus ditahan. Selain bukan destinasi belanja, pusat perbelanjaan di kota ini tak banyak dengan kualitas barang yang kurang bagus. Berbeda dengan Bangkok, mal atau pusat perbelanjaan di kota ini bisa dihitung dengan jari.

PatongCentral Festival Phuket  merupakan mal terbesar di Phuket, besarnya setara dengan Plaza Senayan. Toko-toko di dalamnya pun tak beda jauh. Itu pun barang yang ditawarkan rata-rata branded (bermerek) dan harganya mirip dengan di Jakarta.

Bila Anda menginap di kawasan pantai Patong, Anda bisa mengunjungi mal Junceylon yang terletak di pusat daerah Patong. Mal ini tak terlalu luas, namun di area lantai dasar atau basement, Anda bisa puas membeli berbagai cenderamata, mulai dari aksesori, kerajinan tangan, pakaian, dan berbagai pajangan khas Thailand. Meski harganya sedikit lebih mahal dari versi kaki lima di pinggir jalan Patong atau Bangla Road, namun kios-kios di sini menawarkan barang yang berkualitas cukup baik.

PatongBila kaki mulai lelah, Anda bisa beristirahat sambil menikmati pijat ala Thailand atau Thai Massage yang banyak tersebar di Junceylon. Harganya mulai dari 300 bath (sekitar Rp 100.000) per jam. Para wisatawan juga bisa mencoba fish spa, yakni spa kaki dengan terapis ratusan ekor anak ikan yang akan menggigiti sel-sel kulit mati di telapak kaki. Harganya sekitar 300 bath.

Menikmati Thai Massage di Junceylon jauh lebih nyaman ketimbang di sekitar Patong. Pasalnya di Patong tempat pijatnya rata-rata memiliki kaca tembus pandang sehingga semua aktivitas yang dilakukan di dalamnya bisa dilihat oleh orang yang lalu lalang di pinggir jalan. Serasa menjadi tontonan.

PatongBosan dengan suasana mal? Mulai pukul 18.00 jalan-jalan di sekitar Patong dan Bangla Road akan bertransformasi menjadi pasar malam. Di sepanjang trotoar jalan banyak pedagang kaki lima menawarkan berbagai barang, terutama T-shirt bertuliskan Thailand serta aksesori mulai dari kalung, gelang, juga anting-anting. Sayangnya aksesori yang dijual di sini tak beda dengan yang dijual-jual di pasar Blok M Jakarta atau Maliboro Jogja. Namun bila Anda cukup jeli, Anda bisa menemukan aksesoris yang unik dengan harga murah.

Para pedagang di sini umumnya membuka harga awal cukup tinggi. Oleh karena itu keluarkan keahlian menawar Anda saat berbelanja di Phuket. Agar acara belanja lebih nyaman, datanglah di sore menjelang malam ketika tak begitu ramai orang. Makin malam, kawasan Patong ramai oleh para pelancong yang mencari hiburan malam di bar-bar yang letaknya berbaur dengan para pedagang kaki lima. Agar acara belanja Anda lancar, siapkan uang tunai dalam jumlah cukup besar. Rata-rata toko di sini tak menerima kartu kredit, kecuali toko besar di mal.


Penulis : Lusia Kus Anna
Sumber : KOMPAS
Editor : wsn
Foto : tourismzone, thailandmagic, phuket-travel-secrets, flickr

Senin, 04 Maret 2013

Curug Cigamea

Curug Cigamea berlokasi di Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor yang merupakan bagian dari kawasan wisata Gunung Salak Endah. Bila anda mengunjungi kawasan wisata ini dari arah Leuweliang, maka curug Cigamea merupakan air terjun pertama kali yang akan anda temui sebelum kelima air terjun lainnya.

Lima ? memang benar, kawasan wisata Gunung Salak Endah memiliki objek wisata enam air terjun (Nangka, Luhur, Cihurang, Ngumpet, Sewu dan Cigamea), satu pemandian air panas (Gunung Picung) dan satu wisata kawah (Kawah Ratu).

Untuk menuju ke lokasi air terjun, pengunjung diharuskan berjalan kaki dari areal parkir, melalui jalan menurun +/- 350 meter. Selama dalam perjalanan, setidaknya tercatat tiga air terjun tambahan berada disisi kanan jalan. Masing-masing dengan ketinggan berkisar antara 5 hingga 10 meter namun dengan debit air yang kecil dan berada dibalik rimbunnya daun pepohonan.

Kondisi jalan menuju lokasi berupa jalan setapak yang telah terbuat dari batu dan tersusun rapi dalam bentuk susunan anak tangga. Dibeberapa bagian jalan terdapat tempat peristirahatan, untuk melepas lelah sejenak sambil menikmati air terjun dari kejauhan. Warung-warung penjual makanan juga tersedia, siap melayani dengan hidangan sederhana berupa mie rebus atau sekedar secangkir kopi susu panas. Tentunya hal yang tidak bisa kami nikmati mengingat saat itu masih didalam bulan puasa ramadhan

Setibanya dilokasi, nampak jelas bahwa Curug Cigamea terdiri dari dua buah air terjun utama dengan karakter yang berbeda. Air terjun pertama yang lebih dekat dengan jalan masuk, berupa air terjun dengan tebing curam menyerupai dinding dan didominasi bebatuan warna hitam.

Tipe air yang jatuh lebih bersifat percikan air yang langsung melimpah jatuh dari atas cukup deras meskipun nampak jelas tidak sederas/sebesar air terjun kedua. Hal ini pula yang menjadikan alasan kolam limpahan air yang berada dibawahnya tidak luas dan dalam, sehingga tidak bisa digunakan untuk berenang. Letaknya yang terbuka, memungkinkan pengunjung untuk berada disisi kiri dan kanan dari air terjun.

Air terjun kedua berjarak kurang lebih 30 meter dari air terjun pertama dan berada dicelah tebing. Bebatuan tebing berwarna hitam berpadu dengan corak garis warna coklat kemerah-merahan nampak terlihat jelas dan memberi nuansa sendiri saat melihatnya.

Air yang mengalir lebih mirip dengan aliran sungai dengan ukuran lebar yang semakin kebawah semakin melebar dan debit air yang cukup tinggi. Sepintas bila dilihat dari bawah, sumber air yang berada di atas air terjun kedua ini berada sedikit dibawah air terjun pertama, padahal sebenarnya tidak.

Dari hasil pengamatan mulai dari masuk lokasi ini, terlihat jelas bahwa air terjun kedua ini memiliki ketinggian yang lebih tinggi dari air terjun pertama, namun karena tertutup oleh rimbunnya pepohonan dan adanya bagian tanah yang sedikit menjorok kemuka, praktis bagian atasnya tidak bisa dilihat saat berada dibawah lokasi. Asumsi saya, sekitar 50 persen dari tinggi sebenarnya air terjun ini, tidak bisa dinikmati dari bawah lokasi.

Kolam limpahan air yang ada dibawah air terjun kedua ini, memiliki kedalaman dan luas yang cukup untuk sekedar bermain air maupun berenang. Warna air yang biru kehijau-hijauan dibagian tengah kolam menandakan bahwa dibagian tersebut cukup dalam.

Bahkan salah seorang pengunjung berusaha memanjat tebing untuk kemudian melompat dari ketinggian 2 meter ke bagian tengah kolam. Cukup ramai pengunjung yang datang pada siang itu. Terkadang tak segan pengunjung pria melepas baju dan celana, hanya memakai pakaian dalam kemudian menyeburkan diri, berenang hingga ke bagian tengah kolam, sementara teman-teman lainnya bersorak-sorai dari tepian kolam




Curug Cigamea memang menarik untuk dikunjungi baik untuk kelompok kawula muda maupun wisatawan keluarga. Dibadan sungai yang tidak dalam, tampak beberapa anak kecil sibuk bermain air sambil merendam kakinya untuk merasakan kesegaran dan dinginnya air yang ada.

Derai tawa menyertai tingkah polah mereka saat sebagian tubuhnya terpecik air oleh siraman teman mainnya. Sayangnya lokasi wisata ini tidak cocok untuk berkemah karena kondisi alamnya yang berupa tebing curam, namun setidaknya menikmati dua air terjun yang berbeda dalam satu lokasi, nampaknya bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk mengunjunginya.


Penulis : Silhouette
Lokasi : Gunungsari, Pamijahan, Bogor
Fotografer : Silhouette
Sumber: Navigasi