Sabtu, 29 Juni 2013

Bukan Ayam Goreng Biasa



Bendungan HilirBanyak sekali ayam goreng menjadi sajian menu unggulan di restoran yang bertebaran di Jakarta. Ada yang hanya di goreng begitu saja setelah di bumbui tentunya, ada pula yang di balut dengan tepung. Bumbu – bumbu yang digunakan pun bervariasi dari yang sederhana hanya dengan bawang putih, garam dan ketumbar ada pula yang menambahkan dengan bumbu – bumbu yang banyak macamnya.

Salah satu rumah makan yang menyajikan ayam goreng yang khas adalah Riung Tenda yang terletak di bilangan Benhil. Tepatnya di Jl. Bendungan Hilir Raya No. 126 Jakarta Pusat. Di rumah makan ini disajikan aneka hidangan khas Sunda tentu saja tak ketinggalan sambal dan lalapan yang menjadi ciri khas makanan Sunda.

Bendungan HilirEntah mengapa kalau makan ayam goreng disini selalu saja aku habiskan sampai ke kulit – kulitnya alias tinggal tulangnya saja yang tersisa. Biasanya aku selalu menghindari bagian sayap tetapi di tempat makan yang satu ini hmmmmmm...  rasa dari ayam gorengnya benar – benar menggoda apalagi jika di padu dengan nasi uduk hmmmm seakan satu potong masih belum cukup. Gurihnya nasi uduk pas menjadikan rasa ayam gorengnya semakin mantap.

Bendungan HilirBukan hanya ayam gorengnya saja yang nikmat, ikan mujaer yang di goreng kering juga tak kalah menggoda untuk di santap. Hmmm benar – benar nikmat. Apalagi di tambah dengan cah kangkung, lengkaplah makan siang kali ini.

Sebagai hidangan penutup es doger bisa dijadikan pilihan. Rasa dari hidangan ini seakan melengkapi kenikmatan dari hidangan utama. Hmmm....

Sampai jumpa di petualangan lidah berikutnya

Penulis : Plux - Jakarta
Sumber : KOMPAS

Kamis, 27 Juni 2013

Wanita yang bangun kepagian rentan terkena penyakit jantung




Wanita yang bangun kepagian rentan terkena penyakit jantung

Ilustrasi serangan jantung. 

Bukan cuma jadwal tidur buruk yang membuat wanita rentan kena penyakit jantung, tetapi bangun terlalu pagi juga meningkatkan risiko penyakit tersebut.
Menurut penelitian terbaru dari University of California, 700 wanita yang tidurnya kurang dari enam jam dan cenderung bangun kepagian berisiko tinggi terkena penyakit jantung. Para peneliti pun hanya fokus pada wanita dan tidak melibatkan pria di dalam analisisnya.
"Kurang tidur dan kecenderungan bangun terlalu pagi meningkatkan inflamasi yang memicu penyakit jantung," papar kepala penulis penelitian, Dr Aric Prathe, seperti yang dikutip dari Daily Mail (06/06).
Hasil penelitian tersebut pun dilaporkan dalam Journal of Psychiatric Research.
Sementara itu, sebelumnya peneliti dari Johns Hopkins University di Baltimore membuktikan kalau perubahan empat gaya hidup mampu melindungi tubuh dari penyakit jantung dan menurunkan kematian dari berbagai masalah kesehatan sampai 80 persen.
Perubahan empat gaya hidup tersebut di antaranya adalah menjalani diet mediterania, menjaga berat badan seimbang, olahraga teratur, dan menghentikan kebiasaan merokok.

Mau Coba Makan Ala Samurai?



Sering bingung pilih makanan enak dan tentunya sesuai selera dan mood? Aha, pasti deh kokiers semua pernah mengalami ini. Dan ujung-ujungnya cuma memesan nasi goreng atau mie goreng...haha ... Coba, deh menu ala Nihon Jin atau orang-orang Jepang ini. Banyak orang di berbagai belahan dunia memuji makanan Jepang yang katanya enak dan sehat. Benar?

Hasil pengamatan sementara ini jawabannya, iya deh. Dilihat dari bahannya sudah pasti berkualitas -- soalnya beberapa makanannya biasa dimakan segar -- dan pengolahannya pun sederhana. Contohnya, ikan yang dimakan mentah seperti sushi dan sashimi – ah, ini mah berita basi, ya – tapi sekarang daging sapi pun dimakan mentah, lho. Tinggal dicelup ke soyu lalu lep... hm, oishi (enak). Sayuran dan rumput lautnya juga enak banget dimakan gitu aja.  

Masakan para keturunan samurai ini tidak dimasak dengan bumbu aneka ragam. Bumbu dasar yang selalu dipakai cuma garam, gula pasir, soyu, mirin, sake, minyak wijen dan bijinya. Miso atau fermentasi kacang kedelai dan gandum sebagai bahan utama sup. Bawang putih dan merah nyaris tidak dipakai malah daun bawang mentah hampir selalu hadir.

Sementara sayur yang paling disukai kalau melirik keranjang belanjaan para ibu adalah aneka rumput laut yang kerap di sajikan mentah untuk salad, daikon atau lobak, turnip, ketimun, terong yang berwarna ungu, wortel, akar teratai dan konnyaku sebagai tumisan atau sup.

Oh, ya kacang merah merupakan menu favorit, entah dicampur ke dalam nasi, tumisan atau isi aneka kue. Tahu, ini dia, tersedia puluhan macam tofu. Sebagai umpan tekak, ada pilihan tahu sutera dingin disiram light soy sauce, parutan jahe muda dan dihias irisan daun bawang. Coba, deh. Halus meluncur di kerongkongan dan ada sensasi lembut di lidah! 

Bagaimana dengan menu daging-dagingan?

Ikan tentu tetap ichiban atau pilihan nomor satu. Kalau kita ke swalayan, maka gerai ikanlah yang terbesar. Aneka bentuk dan warna, asyik deh. Untuk kaldu, Nihon Jin biasa memakai kombu atau rumput laut yang direbus sepuluh menit dan atau bonito flakes atau ikan bonito yang diasap, lalu diparut tipis-tipis. Nah, parutan itu direbus menjadi kaldu yang amboi rasa dan harumnya. Sedap!

Setelah ikan di posisi pertama maka pilihan kedua adalah ...ikan lagi, baru yang lain-lain..hahaha...Yaa bisa daging sapi, ayam atau telur. Ada cerita lucu, saat pertama kali makan telur dadar di sini, lidah saya shock karena rasanya manis!

Lalu, bagaimana cara memasak sayurannya?

Sederhana, banget. Walaupun ada yang digoreng atau tempura, rata-rata, sih di simmered begitu saja, dimasak dengan medium heat jadi warna sayuran tetap cerah dan gizi terjaga. Atau mentah sekalian.

Nasi Jepang yang pulen dan manis kontras sekali dengan masakannya yang minim bumbu. Ketika dikawinkan keduanya menjadi luar biasa. 

Nasi beras merah bukan hal aneh, begitu juga nasi dicampur kacang-kacangan, wijen, chesnut, kacang merah, teri, nori atau ditabur telur ikan.

Para samurai modern ini juga masih mempraktekan hara hachi bunme. Itu, lho makan 80 persen kenyang! Mereka juga sangat menikmati makanannya. Disumpit sedikit demi sedikit. Makanan pun disajikan sedikit dan mungil-mungil dalam wadah cantik. Semangat Zen yang kental.

Nggak heran, lho masih sedikit orang Jepang yang gemuk kecuali para jagoan shumo..hihi..Selebihnya, slim aduhai...

Tahun 2004 WHO pernah mengumumkan bahwa Jepang berada di posisi hampir terbawah di mana penduduk pria dan wanitanya cuma 3 persen saja yang mengalami obesitas.

Tidak itu saja, nenek dan kakek yang berumur panjang pun buanyaak di sini. WHO juga mengatakan bahwa umur panjang dan tingkat kesehatan wanita Jepang berada di urutan tertinggi di antara 124 negara yang diriset. Ck..ck..

Penulis : Ria Hidayat - Jepang
Sumber : KOMPAS

Pola makan saat balita bisa tentukan risiko penyakit jantung



Pola makan saat balita bisa tentukan risiko penyakit jantung


Ilustrasi anak makan.


Sebuah penelitian terbaru dari St Michael's Hospital di Toronto menyebutkan bahwa pola makan bayi berusia tiga tahun bisa menentukan risiko penyakit jantung saat dewasa.
Menurut peneliti, efek makanan tidak sehat sudah dimulai sejak seseorang masih balita. Bahkan tanda-tanda kolesterol sudah bisa dideteksi ketika anak masih berusia tiga sampai lima tahun.
Sekitar 1.076 balita dilibatkan dalam penelitian ini. Peneliti pun mengaitkan pola makan dan kandungan kolesterol jagat dalam tubuh mereka yang selama ini memang menjadi tanda risiko penyakit kardiovaskular.
"Penelitian ini setidaknya bisa digunakan sebagai panduan agar orang tua benar-benar memerhatikan konsumsi dan pola makan sehat anaknya sejak dini," terang peneliti Dr Navindra Persaud, seperti yang dikutip dari Daily Mail.
Beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua contohnya adalah selalu menyediakan masakan rumahan, tidak makan sambil menonton TV, dan membatasi kalori atau porsi makan anak.
Hasil penelitian kemudian dilaporkan dalam jurnal Canadian Medical Association.

 sumber: Merdeka.com

Cara sederhana mencegah serangan jantung





Cara sederhana mencegah serangan jantung

Ilustrasi tertawa. ©shutterstock.com/Robert Kneschke

Penyakit jantung merupakan salah satu penyakit mematikan di Indonesia. Sebenarnya penyakit ini bisa dicegah dari dini. Namun banyak orang menyepelekannya. Agar selalu sehat dan tidak mendapat serangan jantung, ikuti tips di bawah ini dilansir mind body green.

Tidak merokok

Rokok merupakan racun yang bisa membunuh Anda sewaktu-waktu. Mungkin awalnya sangat berat untuk melepaskan ketergantungan rokok, tapi percayalah Anda akan lebih sehat tanpa tembakau.

Bergerak
Anda ingin sehat tapi tidak berolahraga sama sekali? Hasilnya nol besar. Justru Anda akan terjangkit banyak penyakit jika tidak pernah olahraga. Anda tidak perlu datang ke fitnes center untuk mendapatkan tubuh bugar. Cukup jalan kaki selama 15 menit sambil menghirup udara segar. Selain membuat pikiran Anda segar, aktivitas ini bikin jantung sehat!

Kelola stres
Stres menjadi pemicu mengapa Anda bisa terserang penyakit jantung. Untuk itu Anda harus pandai mengelola stres. Jangan terlalu larut memikirkan permasalahan, jangan mudah marah dan nikmati hidup Anda. Hidup cuma sekali jadi buat apa dibikin susah?

Jadilah lebih sosial
Memiliki banyak teman, keluarga dan menghabiskan waktu dengan bersenang-senang adalah pencegahan paling efektif dari serangan jantung. Sebaliknya jika Anda tidak mau bergaul, Anda akan lebih cepat stres. Hal tersebut akan membunuh Anda secara perlahan.

Cara sederhana tadi membuat Anda lebih bahagia dan bugar sehingga mengurangi risiko penyakit jantung.

Senin, 24 Juni 2013

Asal Usul Lontong Cap Go Meh



Masing-masing kota di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing dalam merayakan Cap Go Meh ini. Di Jawa terutama, dikenal dengan menyajikan hidangan khas lontong cap go meh. Sementara di Kalimantan, mungkin Night dan Meazza sendiri bisa menceritakan lebih detail. Di Medan juga lain lagi, sembahyang di kelenteng mendominasi kegiatan di malam Cap Go Meh ini.

Kemudian disambung dengan atraksi barongsai, dan lontong cap go meh sendiri sudah mulai menyebar di beberapa bagian di Nusantara ini. Bahkan makanan ini sudah jadi paten namanya di mana-mana, menu di resto, warung, bahkan foodcourt di mall-mall akan seragam semua namanya: “lontong cap go meh”, padahal dimakan setiap saat, bukan pas cap go meh. Sepengetahuan saya, di Kalimantan perayaan Cap Go Meh tidak dengan menyajikan makanan ini.

Semua referensi baik buku kuno, sejarah Semarang, situs-situs kuliner, Google dibolak-balik, Wikipedia ditelusuri, tapi tidak ada satu pun yang menceritakan sejarah atau asal usul lontong cap go meh. Semua website hanya menampilkan sajian lontong cap go meh dan pernik-perniknya. Saya mencoba untuk menebak dan mengira-ngira latar belakang asal usul lontong cap go meh.

Jejak langkah imigran pertama dari China diperkirakan hampir sama tuanya di Nusantara ini, tapi jejak langkah aktifitas dan peninggalan orang Tionghoa di Indonesia, diperkirakan di kisaran tahun 1400’an. Laksamana Cheng Ho yang membawa pasukan perdamaian menurut catatan sejarah singgah ke berbagai kota di Indonesia ada sebanyak 7 kali. Referensi mulai dari yang ilmiah oleh Gevin Menziez: 1421 The Year China Discovered The World, sampai yang fiksi sejarah Remy Sylado: Sam Po Kong, menunjukkan bahwa asimilasi pendatang dan penduduk asli sudah berjalan dengan mulus tanpa adanya paksaan, tanpa adanya “program pembauran”, tanpa adanya politik dsb.

Pembauran ini alamiah, wajar dan manusiawi. Umumnya para perantau ketika itu, mulai dari panglima pemimpin rombongan pasukan perdamaian, sampai dengan jongos kapalnya 99,9% jelas laki-laki. Seperti banyak diketahui bahwa Laksamana Cheng Ho sendiri (yang kemudian dikenal sebagai Sam Po Kong) adalah seorang kasim alias sida-sida (orang kebiri) kerajaan Ming, orang kepercayaan Kaisar Yong Le. Dengan mayoritas laki-laki, pada masa itu (juga sekarang rasanya), jamak jika singgah atau berlabuh di satu negeri asing nun jauh di antah berantah, mereka berusaha menyalurkan insting alaminya, baik dengan cara “quick & short” ataupun “long term relationship”. Sebagian dari para awak kapal muhibah ini ada yang tinggal karena membangun rumah tangga dengan penduduk setempat, ada yang terpaksa tinggal karena sakit (seperti jurumudi Laksamana Cheng Ho, yang kemudian dikenal dengan nama Kyai Juru Mudi yang juga dihormati di Kelenteng Sam Po Kong Semarang sampai sekarang), ada yang karena pesakitan alias residivis yang memilih melarikan diri, membaur dengan penduduk setempat daripada dibawa pulang ke China untuk menjemput kematian karena hukuman mati Kaisar.

Dengan berbagai latar belakang ini, dipercaya berbagai sumber sejarah, bahwa perkembangan pendatang dari China ini awalnya dimulai di pesisir pantai utara Jawa. Pasukan dan awak kapal yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho juga terdiri dari berbagai jenis manusia, agama, budaya dan pendidikan. Agama yang mayoritas di rombongan besar Laksamana Cheng Ho ketika itu adalah agama Buddha sementara pemimpin tertinggi alias panglimanya si Laksamana Cheng Ho adalah pemeluk Islam yang taat, dan menurut sumber-sumber sejarah, beliau ini sudah menuntaskan kewajiban haji.  Karena berbagai jenis latar belakang inilah, maka pembauran dengan penduduk setempat yang ketika itu masih kental sekali animisme, dinamisme, dan Kejawen’nya berjalan dengan lancar. Penyebaran pertama Islam di pulau Jawa dipercaya sudah dimulai di masa itu, jauh sebelum Wali Sanga, demikian juga berdampingan dengan Islam, agama Buddha juga berkembang dengan subur di bumi Nusantara.

Perayaan Imlek sendiri mulai dikenal penduduk setempat, yang jelas merasa sebagai sesuatu yang benar-benar baru, aneh, dan menyenangkan. Adaptasi berjalan dengan cepat. Selayaknya pendatang, mereka juga memperkenalkan segala jenis budaya, pengajaran, makanan, dan pengetahuan lain seiring dengan pembelajaran mereka sendiri dengan kebiasaan setempat. Termasuk rangkaian dalam setahun menurut penanggalan Imlek diperkenalkan dan disesuaikan dengan kebiasaan penduduk setempat. Mulai dari hari pertama Sincia atau Imlek, yang aslinya dari China adalah perayaan menyambut musim semi (??), tapi karena di negeri tropis yang tidak akan pernah mengalami “winter”, nama chun jie (baca: juen cie, menyambut musim semi) tidak pernah dikenal dalam menyebut perayaan Tahun Baru Imlek. Yang dikenal adalah “Imlek” atau “Sincia”. Demikian juga dengan penutup rangkaian perayaan tahun baru Imlek ini yang di tempat asalnya disebut dengan Yuan Xiao Jie (???, baca: yuen siau cie) tidak pernah dikenal di Indonesia, karena pemaknaan yang sedikit berbeda, apalagi tidak akan pernah dikenal dengan nama Shang Yuan Jie (???, baca: shang yuen cie). Untuk menyederhanakan sebutan, di kemudian hari kemudian disebut dengan Cap Go Meh, yang diambil dari dialek Hokkian, yang artinya “malam ke 15” alias malam bulan purnama menurut penanggalan Imlek. Sederhana, gampang diingat dan mudah dipahami oleh semua orang, dibanding dengan sarat dan dalamnya makna serta cerita di belakang nama “resmi” Yuan Xiao Jie.

Perayaan aslinya sendiri yang menggunakan makanan simbolis (??) atau ronde, yang menyimbolkan kerageman (kesatuan) keluarga, karena terbuat dari tepung ketan. Menurut perkiraan saya, pada masa itu, mungkin saja beras ketan sudah dikenal di masyarakat luas (note: sampai dengan tulisan ini ditulis belum pernah diadakan penelitian pola makan, makanan, ataupun budaya makan di masa abad 14-16 di Nusantara ini, khususnya di Jawa). Walaupun demikian, makanan yang terbuat dari beras ketan ditumbuk kemudian dibulatkan sehingga kenyal rasanya akan terlihat aneh bagi penduduk lokal.

Untuk mengakrabkan dan memperlancar proses asimilasi, para pendatang ini berkreasi dengan makanan pokok yang sudah ada sejak dulu kala yaitu beras nasi. Untuk menggenapkan dan memenuhi persyaratan menyambut bulan purnama dibuatlah lontong yang berbentuk bulat juga. Teknik membuat lontong ini dipercaya diadaptasi dari teknik pembuatan bakcang/kicang yang sudah ada ribuan tahun. Untuk pelengkap hidangan tadi sekaligus untuk menghormati Laksamana Cheng Ho yang seorang Muslim, dikreasikan lagi pendamping lontong tadi dengan “sup” ayam modifikasi dan silang budaya antara pendatang dan penduduk asli, menggunakan rempah-rempah yang memang sudah ada dan digunakan sejak lama di bumi Nusantara ini, ditambahkan santan, dsb, bisa jadi inilah asal mula masakan opor.

Sampai saat ini, tidak ada satupun peneliti kuliner dan referensi yang bisa menjelaskan “opor ayam” itu berasal dari mana, sejak kapan ada di Indonesia, siapa penemunya, siapa peramu awalnya, mulai kapan menyebar hampir di seluruh wilayah Nusantara, tidak seorangpun yang tahu, hanya disebutkan “resep warisan leluhur”. Praduga inipun hanya berdasarkan imajinasi saya sendiri, didasari beberapa referensi baik ilmiah maupun fiksi ilmiah, sehingga tulisan ini lebih merupakan fiksi ilmiah daripada suatu hasil penelitian ilmiah yang sahih dan akurat.

Full set dari lontong cap go meh yang terdiri dari lontong, ayam opor, ayam abing (akan dijelaskan lebih lanjut), sambel goreng ati ampela, lodeh terong/labu, telor pindang, bawang merah goreng dan bubuk dokcang (tidak terlihat dalam foto, akan dijelaskan terpisah juga).

Seperti diuraikan di atas, secara simbolis, lontong menggantikan sajian “resmi” di negeri asalnya yaitu yuanxiao alias ronde.

Melambangkan bulan purnama yang bulat bundar, melambangkan kebulatan dan kebersihan hati dari warna putih yang dihasilkan dari bahannya.

Dari warnanya jelas terlihat kuning. Sebenarnya opor di Jawa terdiri dari 2 macam, opor putih dan opor kuning. Opor putih di sini lebih banyak diminati oleh kalangan emak-emak (sebutan), yaitu para wanita Tionghoa yang sudah membaur dengan kebiasaan setempat mengenakan baju kurung (bukan kebaya) dan sarung selayaknya penduduk setempat.

Penampilan unik ini hanya ada di Jawa. Inilah yang disebut emak-emak atau golongan Tionghoa babah. Sebutan Tionghoa babah adalah golongan yang sudah berasimilasi dan berbaur dengan penduduk lokal, sementara Tionghoa totok adalah golongan yang baru datang dari China dan belum berbaur.

Sementara opor kuning, biasa dimasak oleh penduduk asli dengan menambahkan kunyit, dengan alasan “luwih ayu” (lebih cantik), tidak pucat dan lebih menyehatkan badan karena kunyit sebagai penyeimbang santan. Seperti diketahui bahwa fungsi kunyit sangat baik untuk kesehatan tubuh.

Makna warna kuning diasosiasikan dengan emas, yang berkonotasi kemakmuran dan kemakmuran. Saya pribadi lebih suka opor kuning, yang memang terlihat lebih cantik dan rasanya lebih “sedep”.

Warna merah mencorong sambel goreng ati ampela dengan jelas menyiratkan warna wajib perayaan Imlek dan segala sesuatu yang dipercaya oleh orang Tionghoa.

Jelas sekali bahwa makanan ini adalah lintas budaya asimilasi yang melebur total karena jelas di China tidak ada masakan seperti ini, dan mayoritas masyarakatnya tidak meyukai pedas, apalagi masakan dengan banyak rempah dengan rasa dan aroma yang tajam seperti sambel goreng.

(Terkecuali beberapa wilayah di China yang memang akrab dengan pedas, seperti Sichuan, dan itupun tidak menggunakan santan dan rempah seperti masakan khas ini. )

Jelas juga bahwa telor di manapun juga melambangkan rejeki, murah rejeki, kemakmuran, harapan baik, segala sesuatu yang baik.

Pemasakan telor pindang ini juga khas Indonesia, lebih spesifik lagi di Jawa, dengan daun jati atau rempah lain yang menghasilkan telor pindang nikmat yang gempi (apa ya bahasa Indonesia’nya?).

Memang telor “pindang” juga ada di China, tapi namanya telor teh alias cha ye dan (???, baca: ja ye tan), yang memiliki penampakan yang mirip, telor kecoklatan nikmat. Walaupun aroma dan rasa yang berbeda sama sekali.

Ini pelengkap dari hidangan ini semua, warna putih, dengan labu atau terong sebagai sayurnya, melambangkan harapan baik juga, labu atau terong, suatu harapan dan cita-cita yang baik, warna putih yang menyiratkan lembaran baru di tahun yang baru.

Perbedaan terong dan labu hanya perbedaan daerah saja. Di Semarang, lebih suka labu atau jipang, sementara di Jakarta lebih suka terong.

Ini sangat spesifik dan khas hanya ada di Semarang, ada juga yang menyebutnya “sate abing”. Abing sendiri dari bahasa Jawa yang menggambarkan warna merah yang sangat merah, warna merah dalam bahasa Jawa disebut “abang”, dan sangat merah disebut “abing”. Masakan ini kalau boleh saya sebut nama lainnya bisa juga disebut “opor merah” (ini istilah saya saja lho).

Pembuatan yang lebih rumit dari opor biasa, karena harus menggunakan kelapa parut yang disangrai sampai kering dan kecoklatan yang kemudian digiling sehingga menghasilkan cairan kental warna merah tua kecoklatan. Cairan kental merah kecoklatan ini sebagai pengganti santan dalam memasak “opor merah” ini, sementara semua bumbunya sama persis seperti bumbu opor (minus kunyit, supaya warna merah tua terjaga).

Rasanya bagaimana?

Hanya orang Semarang yang mungkin bisa menggambarkannya. Walaupun saya juga cukup yakin bahwa mungkin banyak di antara KoKiers yang sudah pernah merasakannya. Sepengetahuan saya, ayam abing ini tidak didapati di daerah lain.

Sesuai namanya yang “sangat merah” menyimbolkan makna yang sama dengan sambel goreng ati tadi di atas, warna khas perayaan Imlek, dan masakan ini merupakan kemewahan tersendiri di saat menyambut Tahun Baru Imlek. Terlebih lagi tidak banyak orang yang bisa membuat ayam abing dengan benar dan menghasilkan masakan yang sedap. Sementara nama lain “sate abing” adalah warna kecoklatan yang diasosiasikan dengan bumbu sate.

Kelapa Sangrai


Bawang merah goreng dan bubuk dokcang (tidak ada fotonya), sebagai pelengkap dan penyedap dari hidangan khas ini. Bubuk dokcang terbuat dari kedelai yang disangrai dicampur dengan sedikit kaldu (Maggi atau merek lain) dan kemudian digiling halus sampai jadi bubuk kecoklatan.

Semoga uraian singkat ini dapat bermanfaat dan menjadi titik awal penelitian dan penelusuran selanjutnya mengenai asal-usul lontong cap go meh yang nikmat ini. Saking nikmatnya dan sudah menjadi salah satu kuliner khas Nusantara, sampai-sampai namanya pun melekat erat dan menjadi trade mark yang dapat disantap kapanpun, di manapun juga.

Bagi pembaca di luar Indonesia, harap jangan sampai ngiler atau ngeces, kalau setelah membaca ini kemudian homesick menghebat, iler ketes-ketes (air liur netes-netes), tolong jangan timpuki saya ya.....hehehe.....

Terima kasih sekali lagi sudah mau membaca cerita ngalor ngidul saya ini, yang berusaha menulis “fiksi sejarah” mengingat sangat terbatasnya referensi mengenai makanan lontong cap go meh ini.

Penulis : Josh Chen - Global Citizen
Photo by: Josh Chen

'Sotong Pangkong' Jajanan Khas Ramadhan


Sotong PangkongMalam hari pada bulan Ramadhan ini coba langkahkan kaki atau tujukan kendaraan anda di sepanjang jalan Merdeka Barat Kota Pontianak, di sana sambil menunggu umat Muslim usai shalat isya' dan tarawih hampir sepanjang jalan terlihat beberapa warung yang khusus bermunculan hanya pada saat bulan Ramadhan.

Tidak lain dan tidak bukan warung-warung kecil tersebut menawarkan sesuatu yang sangat istimewa bagi penggemar makanan jenis seafood yakni 'sotong pangkong' atau cumi-cumi yang sudah dikeringkan dan dibakar dengan pengapian arang kemudian disajikan dengan sambal yang istimewa, ada yang menggunakan kacang tanah dan ada yang menggunakan jeruk nipis.

Sotong PangkongKetika Harian BERKAT bertandang di 'waroeng rakyat', salah satu warung yang khusus menyediakan menu sotong pangkong milik Ibu Jamilah yang berada tepat di depan masjid Sirajul Munir.

Sambil mempersiapkan pesanan para pelanggan Jamilah memaparkan, bahwa kesempatan menjual sotong pangkong hanya satu tahun sekali. Hanya di bulan Ramadhan jajanan sotong pangkong begitu diminati kehadirannya.

Dengan ukuran sotong yang berbeda, harganyapun berbeda, ada paket ekonomi yang ditawarkan Jamilah berkisar Rp 5.000, semakin besar sotong yang dipesan, maka harganyapun semakin mahal bahkan per ekornya ada yang mencapai Rp 20.000 per porsinya.

Sotong PangkongUntuk memberikan pelayanan dan rasa yang terbaik Jamilah menyediakan dua menu sotong pangkong yakni usai dibakar sotong tersebut dipangkong secara tradisional hingga kelihatan empuk untuk dikunyah, menu berikutnya sebelum dibakar sotong kering tersebut digiling terlebih dahulu agar lebih lembut.

Untuk minggu pertama bulan puasa Jamilah mengakui pendapatannya berkisar Rp 350.000-Rp 400.000, dan seperti tahun lalu pada dua minggu terakhir menjelang lebaran, jajanan sotong pangkong sangat diminati atau laris manis.

Usai shalat tarawih adalah puncak kesibukan bagi Jamilah, sebab secara serentak para jama'ah masjid menyerbu warungnya memesan sotong pangkong, sehingga mengantisipasi hal tersebut Jamilah menambah tenaga pekerjanya yang terdiri dari saudaranya sendiri.

"Keuntungan dari penjualan sotong pangkong, sangat membantu perekonomian keluarga, apalagi menjelang lebaran segala kebutuhan selalu meningkat," ujar Ibu muda yang memiliki jiwa wirausaha ini.

Sotong PangkongDitempat yang sama, M. Andre warga Sungai Raya Dalam dan seorang pelanggan sotong pangkong mengakui hampir setiap tahun Ia sering menghabiskan waktunya sambil bersantai dan menikmati indahnya salah satu sudut pemandangan malam di Kota Pontianak.

Andre mengakui, sotong pangkong yang berada di sepanjang jalan Merdeka Barat tergolong lebih ekonomis, makanya tak heran jika setiap bulan Ramadhan sotong pangkong adalah makanan yang digemari oleh berbagai lapisan masyarakat.

Penulis : adi
Sumber: Harian BERKAT