Untuk
mencapainya harus melewati sebuah gang sempit di kawasan Cikutra. Dari
salah satu rumah yang letaknya berdempetan inilah kerajinan tas kulit
asal Bandung diproduksi untuk memenuhi permintaan ke berbagai kota di
Indonesia.
Ruang tamu merangkap ruang pajang itu tidak terlalu luas. Di kiri dan
kanan tembok terdapat rak-rak yang berisi deretan tas dengan pilihan
warna beragam. Satu model tas biasanya terdiri atas tiga sampai empat
warna.
Sekilas pandang, ruangan itu didominasi tas untuk perempuan. Meskipun
ada beberapa pasang sepatu pria sebagai ”pemanis” yang diletakkan di rak
paling bawah.
Memang, produk utama dari industri rumahan bernama ”House of Leather”
(HoL) ini adalah tas wanita. Untuk pelancong yang senang bertandang ke
Bandung, gerai milik Ade Kusmana ini sudah menjadi salah satu ”detewe”,
alias daerah tujuan wisata. Mungkin karena kualitas produknya yang
memadai dengan harga terjangkau. Samakan kulitnya halus, jahitannya
rapi, dan modelnya trendi.
Datanglah pada jam makan siang. Ruang pajang itu mulai dipenuhi
pengunjung yang semuanya ibu-ibu yang sedang menikmati jam istirahat
kantor. Ada yang sekadar mencari tahu apakah produk terbaru sudah
dikeluarkan, ada yang menagih pesanan, juga yang langsung melakukan
transaksi selusin sekaligus. Mungkin untuk dijual kembali.
Sistem yang dipakai HoL adalah jual putus. Artinya, pembeli yang ingin
menjual kembali, termasuk dengan menempelkan merek di tasnya,
dipersilakan saja. ”Kami hanya menerapkan harga dasar, yang berkisar
dari Rp 200.000 sampai Rp 600.000, tergantung model tas,” kata Deden
Sudiana, salah satu karyawan House of Leather.
Sistem penjualan seperti itu membuat produk industri rumahan ini menjadi
incaran sejumlah pebisnis ritel yang memiliki akses ke mal-mal di kota
besar, ataupun yang memiliki gerai pribadi. ”Lha, saya aja tahunya dari
adik saya yang di Pekanbaru. Dia membeli di sana harganya Rp 400.000 dan
laku banget. Terus dia bilang pusatnya ada di Bandung. Harganya bisa
separuhnya,” kata Yani, yang siang itu sibuk mengumpulkan tas model
kantong dari bermacam warna.
Pembeli lainnya juga mengaku tas asal HoL ini bisa dihargai tiga sampai
empat kali lipat bila sudah sampai di mal eksklusif ataupun gerai elite
seperti yang ada di Jalan Kemang, Jakarta. ”Setiap bulan kami memasok
untuk toko-toko di Citos (Cilandak Town Square), Mangga Dua, Tanah
Abang. Juga ke Cirebon, Medan, dan Riau,” kata Deden.
Rantai panjang
Tas kulit cantik yang dipajang di rak itu memiliki perjalanan cukup
panjang. Tengoklah ke salah satu rumah yang berada di sekitar gerai HoL.
Di situ, para tetangga sedang sibuk memotong lembaran kulit sapi yang
didatangkan dari Tangerang, Karawang, dan Cianjur. Sementara pekerja
lainnya menggunting dan menjahit sesuai pola yang diminta. Di dalam satu
rumah, biasanya ada tiga sampai empat perajin. Saat ini ada lima rumah
yang dijadikan tempat produksi.
Para perajin di rumah Suneni siang itu serentak mengerjakan satu desain tas, sejenis
tote bag.
”Kalau model seperti ini kebetulan tak sulit, apalagi bahan kulitnya
lunak sehingga dalam sehari kita bisa mengerjakan selusin,” ujar Suneni,
yang bertugas menjahit.
Para pekerja ini umumnya bekerja dari pukul 08.00 sampai pukul 19.00.
Upah yang diperoleh untuk pemotong adalah Rp 40.000-Rp 60.000 per lusin
tas jadi. Adapun untuk penjahit sekitar Rp 200.000 per lusin tas jadi.
”Kalau sedang ramai, seminggu bisa dapat Rp 500.000 dan anak-anak
(pemotong kulit) sekitar Rp 150.000. Lumayanlah, yang penting bisa
makan,” kata Suneni yang memiliki tiga anak, dari yang berpendidikan TK
sampai STM.
Setiap harinya para perajin ini memperoleh uang makan Rp 15.000 per
orang, sementara untuk akomodasi mereka bisa tinggal di rumah Suneni.
”Kalau ada yang sakit, kami dikasih uang untuk berobat,” tuturnya.
Model tas yang diproduksi HoL biasanya terinspirasi dari berbagai jenis
tas yang ada di majalah-majalah wanita. Namun, banyak juga pembeli yang
membawa contoh jadi dan kemudian minta dibuatkan replikanya.
Suneni, misalnya, menunjukkan contoh gambar yang harus dikerjakannya.
”Dari semua proses ini, yang paling sulit adalah menjahit dengan benang
besar, terutama untuk tas yang bentuknya kotak karena jahitan harus
terjaga rapi meskipun bidangnya melengkung,” kata Suneni yang mengaku
kontrol kualitas produk cukup ketat. ”Pernah juga tas yang kami produksi
dikembalikan,” katanya.
Tertolong PKBL
House of Leather mulai memproduksi tas kulit untuk keperluan perorangan
pada 1990-an. Pada awalnya, produksi tas hanya mengikuti order yang
diminta oleh toko-toko tas di Bandung.
Kemudian, selama dua tahun HoL bekerja sama dengan sebuah toko tas di
Bandung dengan cara konsinyasi (titip jual). Namun, tahun 1997-1998
krisis keuangan melanda Indonesia. Produksi pun berhenti.
HoL yang masih memiliki bahan baku kulit kemudian kembali melayani
pesanan tas individual. ”Kebetulan kami punya ruangan sedikit di sini,
ya, sudah dijadikan saja
show room,” kata Deden.
Untunglah tahun 1999 HoL memperoleh bantuan modal dari Pertamina lewat
Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dan menjadi mitra binaannya
sampai sekarang.
”Selain modal, kami juga dibantu promosi. Hasilnya beda banget. Di tahun
pertama saja kami sudah diajak mengisi pameran di Inacraft. Dari sana
nama kami mulai dikenal. Order pun meningkat, terutama dari kalangan
Dharma Wanita,” lanjut Deden.”
Kini, dalam sebulan HoL bisa menjual rata-rata 100 sampai 150 tas.
Pesanan akan melonjak menjelang bulan puasa, bisa sampai 300 tas.
Sementara omzet per bulan rata-rata mencapai Rp 20-30 juta. ”Kalau
menjelang Ramadan, bisa mencapai Rp 50 juta, tetapi tidak pernah lebih
dari itu,” ungkapnya.